DRAFT SEKOLAH PELANGI EDUKASI DAN DESTINASI
SMP NEGERI 2 SLAHUNG
A. RASIONALISASI
1. Latar Belakang gagasan sekolah pelangi
2. Mutu Pendidikan
3. Makna Pelangi dalam program
sekolah pelangi
4. misi EDUKASI DAN DESTINASI
B. VISI MISI SEKOLAH
C. TUJUAN
D. MANFAAT
E. PROGRAM REALISASI
F. PELAKSANA DAN DAYA PENDUKUNG
G. RAB
H. WAKTU
A. RASIONALISASI
1. Latar Belakang pemikiran
“Pelangi-pelangi, alangkah indahmu
Merah kuning hijau, dilangit yang biru
Pelukismu agung, siapa gerangan
Pelangi-pelangi, ciptaan Tuhan.
Lirik singkat penuh makna dalam lagu yang berjudul Pelangi yang ciptaan
AT Mahmud. Menurut sebuah artikel berjudul "Lirik dan Chord Lagu Anak,
Pelangi, Ciptaan AT Mahmud" yang dirilis sebuah media siber nasional pada
Rabu, 1 Juli 2020 dinyatakan lagu ini terinspirasi dari pengalaman pribadi AT
Mahmud saat mengantar anaknya ke sekolah.
Mengapresiasi lagu tersebut tersirat dalam imajinasi rasional bahwa lagu
itu merupakan simbol masalah yang terjadi di berbagai lembaga pendidikan mulai
formal, non formal sampai dengan informal. Pertanyaan ini tidak perlu
diperdebatkan bahkan jangan dipertanyakan kebenarannya karena apresiasi adalah
pernyataan, ulasan, tinjauan, kritik, saran dan pendapat dengan interprestasi
bebas atas karya seni yang ada dalam hal ini lagu anak-anak.
Berbagai persoalan dalam lembaga pendidikan formal sekolah, salah satu
contoh masalah yang belum terselesaikan mengenai parameter nasional kualifikasi
mutu sekolah dalam pendidikan. Bukti yang nyata adalah penentuan standar mutu Pendidikan
di Indonesia belum mampu mewadahi semua sekolah, disebabkan karena berbagai faktor
internal maupun eksternal. Sedangkan di wilayah perkotaan dan daerah-daerah
yang dijadikan tolok ukur se Indonesia menurut sensus data BPS dan Kemendibud terdiri
dari 1.331 suku bangsa dan 652 bahasa daerah yang tersebar di 514 kabupaten/kota yang
tersebar di 34 provinsi secara rinci, ada 416 kabupaten, 93 kota dan
5 kota administrative di seluruh tanah air tentu belum mampu menjadi sampel di seluruh
wilayah Indonesia.
Yang paling mencolok adalah pruralitas budaya, tradisi, geografis,
sumber daya alam, sumber daya manusia, teknologi, jangkauan komunikasi
informasi, sarana dan prasarana, fasilitas yang tersedia, media yang menjembatani,
ketersediaan pendukung sekolah, dan faktor-faktor kompetensi pendidik dan tenaga
kependidikan serta peserta didik itu sendiri.
Meskipun kita mengetahui berbagai keputusan peraturan dan
perundang-undangan Pendidikan nasional, maka semua factor di atas perlu
dilakukan kajian mendalam sampai ke hal-hal yang bersifat fundamental dan sekcil-kecilnya.
Misalnya dilakukan pemetaan mutu dengan parameter Ujian Nasional sekalipun
belum mampu meng_cover semuan
elemen-elemen yang dipersyaratkan. Semua potensi dengan standar Ujian Nasional
secara akademis danhal tersebut tidak bisa dijadikan standar mutu secara
nasional, terbukti tidak ada jaminan sukses akademik dipastikan sukses
membangun masa depan tanpa factor-faktor non akademis, bahkan banyak kesuksesan
peserta didik yang dilatar belakangi oleh kompetensi dan potensi yang bersifat
non akademis.
Penghapusan UN secara tidak langsung akan mengubah cara pandang para
orang tua peserta didik pada lembaga bimbingan belajar. Bisa jadi mereka akan
berpikir buat apa memberikan tambahan pendidikan pada anak melalui bimbingan
belajar jika UN dihapuskan? Sementara cara berpikir seperti ini sedikit banyak
pasti akan mempengaruhi kelangsungan hidup lembaga pendidikan non formal
tersebut. Begitu juga dalam lembaga pendidikan informal seperti keluarga. Sampai
sekarang belum ada acuan yang benar-benar pas bagi lembaga ini untuk mengadakan
penyelenggaraan pendidikan yang tepat.
Dalam lembaga pendidikan non formal juga begitu. Bisa jadi dalam lembaga
ini terjadi begitu banyak masalah. Contohnya lembaga bimbingan belajar. Hanya
saja masalah tersebut tidak sampai muncul ke permukaan walau mungkin bergelora
dalam lembaganya. Apalagi saat pemerintah menghapus Ujian Nasional (UN) pada
tahun pelajaran kemarin. Sementara pemerintah sendiri juga kurang apresiatif.
Hal ini dibuktikan dengan Pasal 27 Ayat 1 UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional.
Dalam pasal tersebut dinyatakan kegiatan pendidikan informal yang
dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara
mandiri. Pada satu sisi pernyataan dalam pasal tersebut dapat dinilai positif
meski pada sisi lain juga bermakna negatif.
Pernyataan
dalam pasal tersebut dapat dinilai positif karena memberikan kebebasan lembaga
keluarga mengadakan pendidikan dalam lembaganya secara mandiri. Artinya orang
tua diakui pemerintah bahwa mereka tahu bentuk pendidikan yang baik untuk
anaknya.
Pada sisi lain isi Pasal 27 Ayat 1 tersebut juga menimbulkan
interprestasi lain yang salah satu ketidakpedulian. Bisa jadi isi pasal
tersebut menimbulkan kesan pemerintah kurang apresiatif terhadap lembaga informal.
Buktinya penyelenggaraan pendidikan diserahkan begitu saja secara mandiri pada
keluarga. Benar tidaknya interprestasi tersebut dapat diperdebatkan meski tidak
perlu dilakukan. Jika interprestasi tersebut kurang tepat maka harus dicari
solusinya bersama. Artinya tidak ada kebenaran sejati selain milik-Nya.
Satu hal yang pasti, beberapa masalah yang telah disampaikan secara
garis besar dalam lembaga formal, non formal dan informal di atas hanya secuil
masalah dalam dunia pendidikan di Indonesia. Jika mau diteliti masih banyak
masalah lain yang sampai sekarang masih terus diusahakan solusinya.
Sekarang yang harus dipertanyakan mengapa dalam lagu Pelangi hanya
disebutkan tiga warna pelangi yaitu merah, kuning dan hijau? Bukankah warna
pelangi lebih dari itu? Apakah sang penulis lagu memiliki keterbatasan
pengetahuan tentang warna? Apakah warna pelangi yang muncul di langit saat AT
Mahmud menulis lagu itu memang hanya tiga warna? Apakah ada maksud tertentu
dengan menyampaikan warna pelangi dengan tiga warna saja? Jawaban atas semua
pertanyaan di atas masih gelap. Bisa jadi tiga warna tersebut simbol dan bukan
sekedar warna sebab warna pelangi lebih dari tiga macam. Benar tidaknya hal ini
hanya penulis lagu yang tahu. Kita hanya dapat menikmati lagu tersebut sambil
meraba makna simbolik yang mungkin terselip di baliknya.
Jika memang AT Mahmud menulis lagu itu saat mengantar anaknya ke sekolah
dan jika berbagai masalah pendidikan di Indonesia simbolkan dengan warna
pelangi, maka seharusnya warna pelangi bukan tiga tapi seratus warna pelangi
pendidikan. Bahkan bisa lebih dari itu sebab pendidikan di Indonesia begitu
komplek yang jika ingin dibahas tuntas pasti sulit ditemukan ujungnya.
Setiap masalah dalam pendidikan di Indonesia harus dimaknai positif.
Sudah seharusnya kita bahagia dengan masalah yang datang. Setiap masalah akan
membuat pendidikan di Indonesia semakin kuat jika kita mampu menyelesaikannya. Lebih
dari itu setiap masalah yang datang kadang ujian dari Tuhan. Jadi mari kita
nyanyikan lagu Pelangi karya AT Mahmud itu dengan gembira karena pelangi-pelangi,
ciptaan Tuhan
Dalam lembaga pendidikan formal sekolah, salah satu contoh masalah yang
belum terselesaikan mengenai kekerasan dalam pendidikan. Buktinya sampai
sekarang masih terdengar berita-berita Pendidikan yang bermutu yang ungul
prestasi akademiknya, deskriminasi program mata pelajaran eksakta, IPA,
MATEMATIKA “seolah” satu level lebih unggul di atas ilmu-ilmu sosial, agama,
seni, keterampilan, olah raga. Atau mereka yang ada dijalur eksakta lebih hebat,
lebih keren atau berasa lebih mentereng. Seidentik dengan yang lulus dengan
nilai IPA, Matematika lebih sukses, lebih bersifat prestatif. Paradigma seperti
ini yang banyak terjadi kesenjangan mengenai kualifikasi mutu Pendidikan dan
sekarang masuk dalam ranah integrated
system of educational program domain (bidang Garapan Pendidikan pada sistim
terpadu)
2. Mutu Pendidikan
Mutu pendidikan diukur secara universal baik dari
segi input, proses, output maupun outcome. Aada 13 karakteristik yang dinilai
dalam hal mutu pendidikan yaitu : a. Kinerja (performan). b. Waktu wajar
(timelines) c. Handal (reliability) d. Data tahan (durability) e. Indah (aesteties).
f. Hubungan manusiawi (personal interface). g. Mudah penggunaanya (easy of
use). h. Bentuk khusus (feature). i. Standar tertentu (comformence to
specification). j. Konsistensi (concistency). k. Seragam (uniformity). l. Mampu
melayani (serviceability). m. Ketepatan (acuracy)
Menganalisis permasalahan mutu Pendidikan di era gencarnya teknologi komunikasi
dan informatika semakin kompleks. Bahkan sesungguhnya setiap bidang yang
berkualitas akan berada pada ruang gerak kreasi dan inovasinya masing-masing.
Sehingga secara signifikan bisa dinyatakan bahwa mutu Pendidikan suatu sekolah
akan sangat bergantung dari banyaknya factor sebagaimana dalam penjabaran di
atas.
Dengan demikian permasalahan sekolah tentang berbagai mutu berdasarkan
output tidak bisa dipandang sebelah mata, Bisa jadi sukses karena akademis dan
bisa pula sukses karena non akademis.
Mengkaji tentang Mutu pendidikan terdiri, dari kata
mutu dan pendidikan. Mutu dalam bahasa arab ‘hasan’ yang artinya baik, dalam bahasa Inggris “quality
artinya mutu, kualitas” Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia “Mutu adalah (ukuran
), baik buruk suatu benda; taraf atau derajat (kepandaian, kecerdasan, dsb)”.
Secara istilah mutu adalah “Kualitas memenuhi atau melebihi harapan pelanggan”.
Dengan demikian mutu adalah tingkat kualitas yang
telah memenuhi atau bahkan dapat melebihi dari yang diharapkan. Pendidikan
menurut Imam Al-Ghazali adalah “Sebuah wasilah untuk mencapai kemulian dan
menyerahkan jiwa untuk mendekat diri kepada Tuhan”. Berdasarkan Undang Undang
Sisdiknas No. II Tahun 2003 pendidikan adalah : “Usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, keperibadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”
“Berdasarkan tinjauan mutu pendidikan dari segi
proses dan hasil mutu pendidikan dapat dideteksi dari ciri-ciri sebagai berikut
: kompetensi, relevansi, fleksibelitas, efisiensi, berdaya hasil, kredibilitas”.
Menurut Mujamil mutu pendidian adalah “Kemampuan lembaga pendidikan dalam
mendayagunakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan belajar
seoptimal mungkin”. Berdasarkan beberapa pendapat dapat disimpulkan mutu
pendidikan adalah kualitas atau ukuran baik atau buruk proses pengubahan sikap
dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia
untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui upaya bimbingan pengajaran dan
pelatihan. Mutu di bidang pendidikan meliputi mutu input, proses, output, dan
outcome. Input pendidikan dinyatakan bermutu jika siap berproses. Proses
pendidikan bermutu apabila mampu menciptakan suasana Pembelajaran yang Aktif,
Kreatif, dan Menyenangkan (PAKEM)
Kinerja (performan) berkaitan dengan aspek fungsional
sekolah yang terdiri dari kinerja guru dalam mengajar. “Guru merupakan salah
satu pelaku dalam kegiatan sekolah. Oleh karena itu ia dituntut untuk mengenal
tempat bekerjanya itu. Guru perlu memahami faktor-faktor yang langsung dan
tidak langsung menunjang proses belajar mengajar”. Waktu wajar (timelines) yaitu
sesuai dengan waktu yang wajar meliputi memulai dan mengakhiri pelajaran tepat
waktu, waktu ulangan tepat. Handal (reliability) yaitu usia pelayanan bertahan
lama. Meliputi pelayanan prima yang diberikan sekolah menjadi prinsip agar pihak
yang dilayani merasa senang dan puas atas layanan yang diberikan sehingga
menjadi pelanggan yang baik dan setia. Hal ini sesuai dengan sikap kaum Ansor
dalam menerima kuam Muhajirin yang diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr
ayat 9:
Artinya : Dan orang-orang yang telah menempati kota
Madinah dan telah beriman (Ansor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin),
mereka (Ansor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan
mereka (Ansor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang
diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang
muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan
siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang
beruntung11 . Isi kandungan ayat tersebut diantaranya yaitu (1) Adanya usaha
menghormati orang lain ( kaum Muhajirin), (2) Kerelaan kaun Ansor apa yang diberikan
kepada kaum Muhajirin, (3) Kaum Ansor mengutamakan penghormatan kepada kaum
Muhajirin, (4) Kaum Ansor rela mengalahkan kepentingan sendiri. Isi kandungan
ayat tersebut dapat diterapkan dalam dunia pendidikan dengan menerapkan
manajemen layanan pendidikan dalam mencapai mutu pendidikan yang berakhlak.
Daya tahan (durability) yaitu tahan banting, misalnya meskipun krisis moneter,
sekolah masih tetap bertahan. Indah (aesteties) misalnya eksterior dan interior
sekolah ditata menarik, guru membuat media-media pendidikan yang menarik. Hubungan
manusiawi (personal interface) yaitu menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan profesionalisme.
Hal ini bisa dicapai apabila terjalin komunikasi yang sehat. “Dari komunikasi
itu bisa diperoleh suasana yang akrab dan harmonis, bahkan bisa mendamaikan dua
pihak yang bertikai”. Mudah penggunaanya (easy of use) yaitu sarana dan prasarana
dipakai. Misalnya aturan-aturan sekolah mudah diterapkan, bukubuku perpustakaan
mudah dipinjam dikembalikan tepat waktu
Bentuk khusus (feature) yaitu keuggulan
tertentu misalnya sekolah unggul dalam hal penguasaan teknologi informasi
(komputerisasi). “Persyaratan pertama bagi kepemimpinan pengajaran adalah guru
hendaknya memiliki visi mengenai unggulan dalam mengajar”.
Standar tertentu (comformence to specification)
yaitu memenuhi standar tertentu. Misalnya sekolah telah memenuhi standar
pelayanan minimal. Konsistensi (concistency) yaitu keajegan, konstan dan
stabil, misalnya mutu sekolah tidak menurun dari dulu hingga sekarang, warga sekolah
konsisten dengan perkataanya. Standar yang dimaksud adalah :
1. Seragam (uniformity)
yaitu tanpa variasi, tidak tercampur. Misalnya sekolah melaksanakan aturan,
tidak pandang bulu, seragam berpakaian.
2. Mampu melayani (serviceability)
yaitu mampu memberikan pelayanan prima. Misalnya sekolah menyediakan kotak
saran dan saransaran yang masuk mampu dipenuhi dengan baik sehingga pelanggan
merasa puas.
3. Ketepatan (acuracy)
yaitu ketepatan dalam pelayanan sesuai dengan yang diinginkan pelanggan sekolah.
Standar Mutu Pendidikan Pemahaman dan persepsi dalam
hal standar mutu pendidikan terdapat perbedaan yang disebabkan oleh adanya
perbedaan sudut pandang antara pakar satu dengan pakar lainnya.
Pertama:
sebagian orang, bahkan pada umumnya para orang tua mengatakan bahwa kenyamanan
sekolah itu merupakan salah satu tolak ukur terbaik
Ke
dua :pihak lain berpendapat bahwa hasil belajar atau hasil akademik yang
menunjukan sekolah tersebut menunjukan sekolah yang baik karena menurut pendapat
ini dari buahnya anda mengenali mereka,
Ketiga
:sebagian orang mengemukakan bahwa ada beberapa ciri atau tolak ukur yang akan
memperlihatkan mutu suatu sekolah.
Cyil merangkum pendapat mutu dari sudut pandang yang
berbeda menggunakan tolak ukur yang berbeda. Sebagian orang menggunakan tolak
ukur berdasarkan kondisi sekolah, sebagain lain menggunakan tolak ukur prestasi
hasil belajar, dan pendapat yang lebih luas menyatakan tolak ukur mutu
pendidikan perlu ditinjau dari berbagai tolak ukur yang relevan.
Pandangan ke tiga diperkuat dengan pandangan Mujamil
yang menyatakan bahwsa “Lembaga pendidikan dikatan bermutu jika input, proses,
dan hasilnya dapat memenuhi persyaratan yang dituntut oleh pengguna jasa
pendidikan”. Meskipun Mujamil menggunakan tolak ukur input, proses dan hasil,
namun titik tolak ukur mutu pendidikan menurut Mujamil adalah pengguna jasa
pendidikan, yang berarti lebih berfokus pada out put yaitu potensi dan nilai
guna para alumni dalam kehidupan.
Menurut Usman “Output dinyatakan bermutu
apabila hasil belajar akademik dan nonakademik siswa tinggi. Outcome
dinyatakan bermutu apabila lulusan cepat terserap di dunia kerja, gaji wajar, semua
pihak mengakui kehebatannya lulusannya dan merasa puas”.
Sedangkan menurut Hari Sudradjad pendidikan yang
bermutu adalah Pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang memiliki
kemampuan atau kompotensi, baik kompetensi akademik maupun kompetensi kejuruan,
yang dilandasi oleh kompetensi personal dan sosial, serta nilai-nilai akhlak
mulia, yang keseluruhannya merupakan kecakapan hidup (life skill),
pendidikan yang mampu menghasilkan manusia seutuhnya (manusia paripurna) atau
manusia dengan pribadi yang integral (integrated personality) mereka
yang mampu mengintegralkan iman, ilmu, dan amal.
Pandangan yang lebih komprehensif tentang mutu
pendidikan dikemukakan oleh Sardi. Standar mutu pendidikan sesuai ISO 9001 :
2008 adalah sebagai beikut :
a. Komponen standar isi, sasaran mutu :
1)
Pengembangan KTSP berdasarkan guru mata pelajaran, konselor, dan komite sekolah
penyelenggara
2) Lebih dari 76 % Silabus dikembangkan sesuai dengan
pedoman
3) Sekolah memenuhi standar memenuhi kebutuhan
peserta didik.
b. Komponen standar proses, sasaran mutu :
1) Semua guru membuat RPP sesuai dengan aturan.
2) 76 % guru melakukan pembelajaran berbasis
teknologi
3) 76 % siswa dapat melakukan prakerin sesuai
kompetensinya
4) Hasil evaluasi guru semuanya baik
c. Komponen standar kompetensi lulusan, sasaran mutu
:
1) Rata-rata Hasil Ujian Sekolah
2) KKM kelas VIII dan kelas IX
3) Siswa memperoleh berbagai macam keterampilan
d. Komponen standar pendidik dan kependidikan,
sasaran mutu :
1) Meningkatkan kualifikasi PTK
2) Meningkatkan kompetensi (pelatihan) PTK
e. Komponen standar sarana dan prasarana, sasaran
mutu :
1) Semua bahan ajar yang diperlukan siswa tersedia
2) Menambah sarana dan prasarana
f. Komponen standar pengelolaan, sasaran mutu :
1) Semua unsur terlibat dalam kerja tim pengembangan
2) RKJM/RKT/RAKS berdampak terhadap peningkatan hasil
belajar.
3) Sistem informasi dengan menggunakan website
/softcopy
g. Komponen standar pembiayaan, sasaran mutu :
1) Sekolah membayar gaji guru dan karyawan tepat waktu
2) 95 % penggunaan anggaran sesuai dengan rencana
3) 90% siswa membayar SPP tepat waktu
h. Komponen standar penilaian, sasaran mutu :
1) 100% guru menilai berdasarkan silabus yang telah
ditetapkan
2) Ada penilaian baik bidang akademik maupun non akademik
3) Seluruh hasil penilaian siswa di dokumentasikan.
Perbedaan persepsi tentang mutu pendidikan merupakan
hal wajar, karena masing-masing pihak mendefinisikannya dari sudut pandang dan
kemampuan dalam menganalisis yang beragam. Badan/lembaga pelaksana yang
terlibat dalam kegiatan penjaminan mutu, baik tingkat, dasar, menengah maupun
pergururan tinggi adalah Badan Standar Nasional Pendidikan yang selanjutnya
disebut BSNP adalah badan mandiri dan independen yang bertugas mengembangkan,
memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi standar nasional pendidikan.
Penilaian dilakukan melalui akriditasi dengan
berpedoman pada peringkat nilai sebagai berikut : Sekolah/Madrasah memperoleh
peringkat akreditasi sebagai berikut.
a.
Peringkat akreditasi A (Sangat Baik) jika sekolah/madrasah memperoleh Nilai
Akhir Akreditasi (NA) sebesar 86 sampai dengan 100 (86 < NA < 100).
b.
Peringkat akreditasi B (Baik) jika sekolah/madrasah memperoleh Nilai Akhir
Akreditasi sebesar 71 sampai dengan 85 (71 < NA < 85).
c.
Peringkat akreditasi C (Cukup Baik) jika sekolah/madrasah memperoleh Nilai
Akhir Akreditasi sebesar 56 sampai dengan 70 (56 < NA < 70)19
Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Untuk meningkatkan
mutu madrasah menurut Sudarwan Danim melibatkan lima faktor yang dominan :
(1) Kepemimpinan Kepala sekolah;
(2) Siswa/ anak sebagai pusat;
(3) Pelibatan guru secara maksimal;
(4) Kurikulum yang dinamis;
(5) Jaringan Kerjasama”.
Kepala sekolah harus memiliki dan memahami visi kerja
secara jelas, mampu dan mau bekerja keras, mempunyai dorongan kerja yang
tinggi, tekun dan tabah dalam bekerja, memberikan layanan yang optimal, dan
disiplin kerja yang kuat. Pendekatan yang harus dilakukan adalah “anak sebagai
pusat “ sehingga kompetensi dan kemampuan siswa dapat digali sehingga sekolah
dapat menginventarisir kekuatan yang ada pada siswa . Jaringan kerjasama tidak
hanya terbatas pada lingkungan sekolah dan masyarakat semata (orang tua dan masyarakat
) tetapi dengan organisasi lain, seperti perusahaan / instansi sehingga output dari
sekolah dapat terserap didalam dunia kerja
Peningkatan mutu pendidikan harus mengambil langkah sebagai
berikut :
a.
Pemerintah menanggung biaya minimum pendidikan yang diperlukan anak usia
sekolah baik negeri maupun swasta yang diberikan secara individual kepada
siswa.
b.
Optimalisasi sumber daya pendidikan yang sudah tersedia, antara lain melalui double
shift ( contoh pemberdayaan SMP terbuka dan kelas jauh )
c.
Memberdayakan sekolah-sekolah swasta melalui bantuan dan subsidi dalam rangka
peningkatan mutu pembelajaran siswa dan optimalisasi daya tampung yang
tersedia.
d.
Melanjutkan pembangunan Unit Sekolah Baru (USB ) dan Ruang Kelas Baru (RKB )
bagi daerah-daerah yang membutuhkan dengan memperhatikan peta pendidiakn di
tiap-tiap daerah sehingga tidak mengggangu keberadaan sekolah swasta.
e.
Memberikan perhatian khusus bagi anak usia sekolah dari keluarga miskin,
masyarakat terpencil, masyarakat terisolasi, dan daerah kumuh.
f.
Meningkatkan partisipasi anggota masyarakat dan pemerintah daerah untuk ikut
serta menangani penuntasan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.
Sedangkan peningkatan mutu sekolah secara umum dapat
diambil suatu strategi dengan membangun akuntabilitas pendidikan dengan pola
kepemimpinan , seperti kepemimpinan sekolah Kaizen yang menyarankan :
a. Untuk memperkuat tim-tim sebagai bahan pembangun
yang fundamental dalam struktur perusahaan
b. Menggabungkan aspek–aspek positif individual
dengan berbagai manfaat dari konsumen
c.
Berfokus pada detail dalam mengimplementasikan gambaran besar tentang
perusahaan
d.
Menerima tanggung jawab pribadi untuk selalu mengidentifikasikan akar menyebab
masalah
e. Membangun hubungan antar pribadi yang kuat
f. Menjaga agar pemikiran tetap terbuka terhadap
kritik dan nasihat yang konstruktif
g. Memelihara sikap yang progresif dan berpandangan
ke masa depan
h. Bangga dan menghargai prestasi kerja
i. Bersedia menerima tanggung jawab dan mengikuti
pelatihan.
Menurut Lewis peningkatan mutu organisasi apapun
didukung oleh empat kekuatan pendorong, atau pilar, yang menggerakan organisasi
menuju penerapan pelayanan mutu.
Total Quality Management
in any organization is supported by four driving forces, or pillars, that move
the organization toward the full application of quality service. The four
pillars of the House of Quality are customer service, continuous improvement,
processes and facts, and respect for people. All are distinct, but equal in
potential strength. All four must be addressed; minimizing one weakens the
others. By not addressing one, the entire house of Quality will fall.
Empat pilar mutu yang dimaksud yaitu
(1) Layanan pelanggan,
(2) Perbaikan terus-menerus,
(3) Proses dan fakta-fakta,
(4) Menghormati orang.
Setiap lembaga pendidikan masalahnya berbeda tetapi
inti permasalahannya sama. Keempat pilar harus ditangani dengan baik dalam
rangka meminimalkan kesalahan. Salah satu pilar tidak dijalankan dengan baik
dapat meruntuhkan mutu pendidikan secara keseluruhan.
Penjaminan Mutu Pendidikan “Penjaminan mutu
pendidikan merupakan suatu konsep dalam manajemen mutu pendidikan”. Madrasah
yang dikelola dengan manajemen mutu pendidikan harus memberi jaminan bahwa
pelayanan pendidikan yang diberikan dapat memenuhi bahkan melampaui harapan
para pelanggan baik pelanggan internal maupun eksternal. Pelanggan internal
yaitu guru dan karyawan. Pelanggan eksternal terdiri dari pelanggan eksternal
primer (peserta didik), pelanggan eksternal sekunder (orang tua, masyarakat,
pemerintah), dan pelanggan ekternal tersier (pemakai lulusan). Kata kuncinya
adalah “Orang tua puas dengan layanan terhadap anaknya maupun layanan kepada
orang tua”
Sistem penjaminan mutu pendidikan sangat penting
dilakukan agar madrasah benar-benar mengelola pendidikan yang bermutu, sehingga
menjadi madrasah yang diidolakan masyarakat. “Bila tidak ada penjaminan mutu
berdasarkan pagu yang baku ini akan dapat menimbulkan disparitas mutu
pendidikan lintas sekolah dan lintas daerah”. Demikian pula konsep mutu perlu
dibakukan agar terdapat persepsi yang sama. “Lembaga pendidikan dikatakan
bermutu jika input, proses, dan hasilnya dapat memenuhi persyaratan yang
dituntut oleh pengguna jasa pendidikan”. Penjaminan mutu pendidikan dapat
dilakukan secara formal maupun informal. Penjaminan mutu formal dilakukan oleh
lembaga mandiri (eksternal) yang bersifat independen, sedangkan yang informal
dilakukan oleh suatu gugus penjaminan mutu yang ada di dalam organisasi atau
lembaga itu.
Penjaminan mutu secara formal dengan menerapkan
pembakuan mutu model ISO 9000 bisa diterapkan dalam bidang pendidikan. ISO 9000
standar terdiri dari lima dokumen yaitu : ISO 9000, merupakan penjelasan
menyeluruh dalam garis besar yang memberikan pedoman untuk seleksi dan
menggunakan standar lainnya. ISO 9001 yaitu standar yang memfokus ada 20 aspek
program kualitas perusahaan yang mendesain, menghasilkan, merakit, dan melayani
produk. ISO 9002 mencakup bidang yang sama bagi perusahaan yang mempunyai
aktivitas di lokasi lain. ISO 9003, mempunyai lingkup terbatas dan ditunjukan
hanya untuk proses produksi. ISO 9004, terdiri dari pedoman untuk
menginterprestasikan standar lainnya.
ISO 9000 disusun berdasarkan delapan prinsip
manajemen kualitas. delapan prinsip ini dapat dipakai oleh manajemen senior sebagai
suatu kerangka kerja (framework) untuk membimbing organisasi-organisasi
mereka menuju peningkatan prestasi. Prinsip-prinsip tersebut diperoleh dari
pengalaman dan pengetahuan kolektif dari para ahli internasional yang
berpartisipasi dalam komite teknik ISO
Konsep Manajemen Mutu Pendidikan Ada tiga tahap
konsep manajemen mutu pendidikan menurut Muhaimin yaitu :
Tahap 1 : Infentarisasi, penetapan, stakeholder dan
kegiatan utama lembaga pendidikan ( infentarisir dan penetapan kebutuhan
stakeholder, mengidntifikasi stakeholder potensial, menganalisis stakeholder
potensial);
Tahap 2 : Memformulasi strategi lembaga pendidikan (
mengembangkan visi dan misi, penetapan tujuan strategis, menganalisis SWOT,
melakukan pengukuran kinerja, mengidentifikasi fokus strategi, evaluasi
portofolio,
Tahap 3 : Mengembangkan rencana kegiatan utama (
penentuan sasaran, pengembangan rencana program, penetapan rencana aktifitas,
seleksi teknis analisis).
Berdasarkan pemaparan latar belakang dan penjabaran
tentang mutu Pendidikan maka muncul gagasan pokok untuk membawa SMPN 2 Slahung
menjadi sekolah yang memiliki karakteristik sebagai salah satu sekolah yang
memiliki unggulan baik dalam internal maupun eksternal, kenatipun secara
geografis sekolah ini berada di pelosok desa. Oleh karena itu dari
fenomena-fenomena yang tampak pada pengamatan yang kami lakukan tercetuslah ide Sekolah
Pelangi Edukasi dan Destinasi.
3. Makna program sekolah Pelangi , Edukasi
dan Destinasi
a. Pengertian Pelangi
Tersirat dalam benak kita istilah pelangi merupakan sebuah tumpukan dari
beberapa warna. Pelangi ialah suatu fenomena akibat dari pembiasan cahaya yang
berasal dari percikan-percikan air (air hujan) yang terkena cahaya matahari
yang kemudian membentuk sebuah busur cahaya dengan tujuh warna dasar.
Ketujuh warna tersebut antara lain, merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila,
ungu atau mejikuhibiniu.
Beberapa ahli, mengartikan, Seperti Newton, berpendapat bahwa
pelangi adalah spektrum yang dihasilkan dari pembelokan sinar yang masuk
melalui prisma. Dimana terdapat tujuh warna dasar antaralain, merah, orange,
kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Sedangkan Lord Rayleigh menyatakan
bahwa pelangi dan efek cahaya yang muncul di langit disebabkan oleh cahaya yang
dibiaskan dan terdistrosi oleh partikel-partikel uap air.
Pembiasan Sinar Matahari, Pelangi dapat muncul disebabkan oleh
pembelokan atau pembiasan cahaya matahari yang terjadi di atmosfer bumi, dimana
cahaya matahari sebelum masuk ke permukaan bumi akan ditahan melalui atmosfer.
Lapisan atmosfer ini yang menahan cahaya matahari dari medium satu menuju
medium yang lainnya, dan kemudian sinar matahari tersebut masuk ke titik-titik
air hujan.
Sinar Matahari Masuk Melalui
Presipitasi Air Hujan, Ketika cahaya matahari tertahan oleh lapisan atmosfer,
agar sinar matahari dapat menuju permukaan bumi dengan melalui presipitasi air
hujan. Presipitasi air hujan adalah jumlah titik–titik air hujan yang akan
masuk ke permukaan bumi. Namun titik-titik air hujan tersebut tidak dapat turun
dengan lurus ke bawah, yang akhirnya membuat cahaya matahari yang terbawa ikut
dibelokkan oleh presipitasi air hujan.
Pembelokan cahaya matahari oleh presipitasi air hujan mengakibatkan
dampak warna cahaya matahari yang telah berkumpul menjadi satuan warna putih
akan terpisah antara satu warna dengan warna lainnya dan akhirnya terbentuklah
pembiasan cahaya menjadi warna warna merah jingga kuning hijau biru nila dan
ungu.
Cahaya yang Dibelokkan. Setelah cahaya sudah terkumpul menjadi
satuan warna, yaitu warna putih, tetapi warna tersebut hanya bertahan pada saat
cahaya matahari masih tertahan pada lapisan atmosfer. Setelah itu warna
tersebut akan menyebar menjadi tujuh warna dikarenakan pembelokkan sudut dan
menjadikan tujuh warna indah pada pelangi. Inilah sebabnya pelangi berbentuk
seperti busur.
Terbentuknya Warna PelangiPelangi yang awalnya terbentuk dari perputaran
warna matahari yang terlihat putih akhirnya berubah menjadi tujuh warna dasar
yang merupakan warna awal dari cahaya matahari. Warna yang pertama kali
dibelokkan oleh cahaya pelangi adalah warna ungu, sedangkan pembelokkan cahaya
matahari oleh presipitasi air hujan yang terakhir adalah warna merah. Hal ini
berbanding terbalik pada penyebutan warna warna merah jingga kuning hijau biru
nila dan ungu pada pelangi.
Berdasarkan deskripsi tentang Pelangi SMPN 2 Slahung Ponorogo, terinspirasi
untuk memujudkan makna Pelangi dalam membawa visi dan misi sekolah secara
kompleksitas, baik dalam visualisasi maupun misi kualifikasi akademik dan non
akademik dengan pemberdayaan sumber daya yang dimiliki dengan membangun Kerjasama
dengan lingkungan masyarakat sekitar, stakeholder, tokoh masyarakat, rekanan
dan mitra kerja sekolah yaitu komite.
Mengintegrasikan unsur-unsur dalam Visi sekolah yang berbudaya, agamis,
nasionalis, unggul dan antusias serta menyenangkan, dengan Visualisasi
lingkungan yang aman, sejuk dan nyaman.
b.
Pengertian Edukasi
dan Destinasi
Edukasi adalah suatu proses pembelajaran yang dilakukan baik secara
formal maupun non formal yang bertujuan untuk mendidik, memberikan ilmu
pengetahuan, serta mengembangkan potensi diri yang ada dalam diri setiap
manusia. Kemudian mewujudkan proses pembelajaran tersebut dengan lebih baik.
Selain itu, edukasi adalah upaya mengubah sikap dan perilaku seseorang ataupun
kelompok dalam bentuk pendewasaan melalui proses latihan maupun melalui proses
pembelajaran.
Beberapa tokoh Pendidikan seperti MJ. Langeveld mendefinisikan
bahwa edukasi adalah upaya manusia dewasa membimbing manusia yang belum dewasa
kepada kedewasaan. Menurutnya juga edukasi adalah usaha menolong anak untuk
melaksanakan tugas-tugas hidupnya, agar bisa mandiri, akil-baligh, dan
bertanggung jawab secara Susila. Dan
Ahmad D
Marimba mengartikan edukasi adalah suatu bimbingan yang dilakukan secara sadar
oleh pihak pendidikan, baik di perkembangan jasmani maupun rohani agar menjadi
lebih baik. Serta Notoadmojo menyatakan edukasi adalah pendidikan yang berarti
suatu upaya yang telah direncanakan oleh seseorang agar dapat mempengaruhi
orang lain, baik individu maupun kelompok dan juga masyarakat. Sehingga dengan
adanya pendidikan ini mampu menjadikan sesuatu tersebut menjadi lebih baik.
Tuohino & Konu (2014) menyatakan
bahwa pengertian dari destinasi adalah area geografis sebagai lokasi
yang dapat menarik wisatawan untuk tinggal secara sementara yang terdiri dari
berbagai produk periwisata, sehingga membutuhkan berbagai prasarat untuk
merealisasikannya
Destinasi pariwisata itu merupakan suatu
wilayah geografis seperti negara, pulau kabupaten, kota, kecamatan, desa,
kampung atau kawasan pariwisata yang memiliki daya tarik seperti atraksi
wisata, fasilitas, aksesibilitas, SDM, citra dan harga untuk dikunjungi dan
ditinggali oleh individu atau kelompok secara sementara dalam suatu perjalanan
yang disebut dengan migrasi wilayah. Oleh karena itu berkembanglah konsep yang
disebut dengan area destinasi (destination area) dan area tempat
asal pengunjung yang biasa disebut dengan origin.
Demikian pemahaman tentang makna Bahasa maupun
etimologisnya pelangi, edukasi dan destinasi yang diprogramkan di sekolah pada awal
tahun 2022 maka dapat ditegaskan bahwa program sekolah pelangi, edukasi dan
destinasi merupakan sebuah program yang nantinya bertujuan mewujudkan SMPN 2
Slahung memiliki keunggulan dan karakteristik sebagaimana dalam visi dan
misinya secara internal semua warga sekolah memiliki budi pekerti yang santun, diselimuti suasana
agamis, tetapi tetap memegang teguh nilai-nilai nasionalis atau kebangsaan dengan
keunggulan akademis dan atau non akademis yang menanamkan sikap antusias dan
progresif dalam lingkungan sekolah yang nyaman untuk singgah, belajar dengan
bebagai fasilitas bina potensi sehingga merasa
betah di sekolah, berforma estetik, artistk dan etiks untuk belajar dan
berlatih berbagai bidang ketrampilan dan seni. Sedang secara eksternal karena
lokasi sekolah berada di lereng gunung dan di tepi jalan lintas nasional terwujud
suasana lokasi wisata setidaknya memberi daya Tarik untuk rest area di
sekitarnya, berpose dan berselfie ria, beristirahat
4. Misi edukasi dan destinasi pada sekolah Pelangi
Sebagai
pusat Pendidikan yang berhubungan dengan bidang pariwisata di SMPN 2 Slahung
Ponorogo berbasis Edukasi alam terbuka dan naturalis untuk misi Pendidikan dan mempertahankan kelestarian lingkungan,
keramahan, dan kearifan local.
1. Menciptakan suasana belajar
yang artistic, Estetik dan etiks di dalam dan luar sekolah
2. Menciptakan fasilitas belajar
dan prasarana untuk belajar, out bond dan lokasi field trip
3. Memberikan pembelajaran langsung dalam bentuk praktik di lapangan
sebagai pengalaman berharga dalam kehidupan (life skill)
4. Memberikan pengalaman perjalanan
wisata yang unik dan berbeda dalam bentuk edukasi aneka suasana alam
pembelajaran dan pemelajaran alam yang mengedepankan prinsip kasih sayang
terhadap sesame makhluk, lingkungan, keamanan, dan pelayanan.
5. Penyajian suasana sekolah
sebagai obyek wisata yang nyaman dan sejuk dengan menpertahankan kelestarian
alam sekitar.
4. Menjadi pusat kegiatan
pendidikan dan training yang mengedepankan kualitas dan profesionalisme dalam
pelayanan.
6. Ikut serta terlibat membangun
dan mengembangkan wisata (object out bond/field Trip) yang berada di Wilayah Desa
Wates, Kecamatan Slahung Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia Bersama masyarakat
lokal (area masyarakat yang dulu pernah menjadi bumi Perkemahan Pramuka).
5. Lokasi
Lokasi Pengembangan Sekolah Pelangi adalah
SMPN 2 Slahung dan lahan sekitar sekolah.
6 Bidang Garapan
1. Pembuatan big letter sekolah di
badan talut pinggir jalan raya, talut halaman, terasiring, taman tengah
2. Pengecatan Pelangi talut,
taman, Lorong, selasar, pilar Gedung, tembok Gedung. Trap/tangga cor, pot-pot
permanen dan bergerak, paving halaman, paving teras.
3. Pembuatan parkir, Gazebo dan
haq/duduk cor
4. Pembuatan lampu-lampu gantung
5. Pembuatan taman tebing halaman
dan belakang
6. Pembuatan air mancur
7. Pembuatan bilah Bina Potensi,
mural graffiti, rumus-rumus materi berbagai pembelajaran
8. Pembuatan bilah literasi
- VISI MISI SEKOLAH
- TUJUAN
- MANFAAT
- PROGRAM REALISASI
Program yang ingin direalisasikan
untuk menciptakan karakteristik sekolah Pelangi yang berjargon edukasi dan
destinasi adalah, visualisasi name board, pengecatan, pembuatan ikon sekolah
berupa monument logo sekolah dan pembuatan bilah-bilah edukasi sebagai media
pembelajaran yang berupa media bina potensi akademik.
Secara terperinci dapat dilihat
pada matrik sebagai berikut :
|
PROGRAM |
SASARAN |
TARGET PENCAPAIAN |
|
Lettering |
Talud di pinggir jalan raya |
Name board besar cor semen |
|
|
Pojok halaman sekolah |
Logo sekolah cor |
|
|
Tiap tangga/trap cor |
Beridentitas sekolah |
|
|
Buat ragam tulisan seni di taman
dan di setiap pojok Lorong, di tiap sisi lokasi |
Semboyan, sasanti, pesan, kias, identitas
tempat, naman nama dengan berbagai Bahasa (arab, latin, inggris) dengan seni
dari berbagai media dan bahan |
|
Pengecatan |
Talut depan. |
Terwujudnya nuansa warna warni
kreasi yang bertema lingkungan sehat, pelestarian alam, pelajar Pancasila,
cinta bersih dan asri, indah itu menyenangkan, kami bisa karena biasa, nuansa
agamis, suasana senyum, sapa salam, kekeluargan |
|
|
taman |
|
|
|
Lorong/selasar |
|
|
|
pilar Gedung |
|
|
|
tembok Gedung. |
|
|
|
Trap/tangga cor |
|
|
|
pot-pot permanen dan bergerak,
|
|
|
|
paving halaman |
|
|
|
paving teras |
|
|
Pengadaan media |
Tempat parkir
sepeda motor guru dan tamu |
Dibangun tempat parkir berpaving
atau berselasar/rabat 2 shaf |
|
|
Gazebo |
Perapian gazebo dan penataannya |
|
|
haq/t. duduk cor |
Ujung barat dan timur dan depan
kelas atas terpasang tempat-tempat duduk cor di samping gazebo |
|
|
lampu-lampu gantung |
Terpasangnya lampion2 gantung di
halaman depan |
|
|
Taman air mancur |
Tebing batu taman air mancur |
|
|
pagar hidup bag. barat |
Penanaman sono kembang |
|
|
bilah
Bina Potensi, |
Area diskusi yang representatif |
|
|
mural graffiti, |
Muralisasi dengan graffiti bertajuk
pelajar Pancasila |
|
|
rumus-rumus materi berbagai materi
MP |
Menyediakan media tembok, pagar
atau Lorong untuk mewadahi media belajar |
|
|
Bilah literasi |
Pemaksimalan madding, dan literasi,
numerasi |
- PELAKSANA DAN DAYA PENDUKUNG
Untuk mewujudkan program tersebut
perluperencanaan yang matang, Teknik dan strategi, penugasan serta daya dukung
yang rapi. Pelaksana dalam program tersebut menjadi tugas Sarana prasarana dan
humas serta bendahara di bawah tanggung jawab kepala sekolah. Sedang daya
dukung program tersebut sesuai dengan kondisi yang ada dapat dijabarkan sebagai
berikut:
|
PROGRAM |
SASARAN |
DAYA DUKUNG |
|
|
Kondisi nyata |
Harapan |
||
|
Lettering |
Talud di pinggir jalan raya |
Permanen 80% siap dan kondisi kosong
|
Pembenahan 20%, terwujud nameboard
sekolah besar cor |
|
|
Pojok halaman sekolah |
Siap 100% |
Terealisasi logo cor, tutwuri,
logo sekolah |
|
|
Tiap tangga/trap cor |
Kosong 100% |
Ada tulisan semboyan2 |
|
|
Buat ragam tulisan seni di taman
dan di setiap pojok Lorong, di tiap sisi lokasi |
Kosong 100% |
Terealisasi berbagai tulisan
yang kreatif |
|
Pengecatan |
Talut depan. |
Kosong dan polos |
Terpancar Pelangi2 warna yang
kreatif |
|
|
taman |
Kosong dan polos |
Terwujud taman asri warna
warni |
|
|
Lorong/selasar |
Kosong dan polos |
Terwujud Lorong/selasar indah
warna warni |
|
|
pilar Gedung |
Kosong dan polos |
Terwujud pilar gedung warna
warni |
|
|
tembok Gedung. |
Kosong dan polos |
Terwujud tembok indah dan
asri warna warni |
|
|
Trap/tangga cor |
Kosong dan polos |
Terwujud trap/tangga cor
indah warna warni |
|
|
pot-pot permanen dan
bergerak, |
Kosong dan polos |
Terwujud pot-pot estetik dan
artistik warna warni |
|
|
paving halaman |
Kosong dan polos |
Terwujud paving2 halaman
kreasi warna warni |
|
|
paving teras |
Kosong dan polos |
Terwujud paving teras selaras
warna warni |
|
Pengadaan media |
Tempat parkir
sepeda motor guru dan tamu |
Belum ada,
menggunakan teras |
Terwujud
tempat parkir moto guru dan tamu yang rapi berwarna warni |
|
|
Gazebo |
Ada, kurang bagus |
Direnovasi menjadi applied
art |
|
|
haq/t. duduk cor |
Ada, sudah rusak |
Direnovasi menjadi applied
art |
|
|
lampu-lampu gantung |
Belum ada |
Terealisasi |
|
|
Taman air mancur |
Ada belum selesai |
Terselesaikan dengan
warna-warni exotic |
|
|
pagar hidup bag. barat |
Pagar duri sdh rusak |
terealisasi |
|
|
bilah
Bina Potensi, |
Belum ada |
Terealisasi |
|
|
mural graffiti, |
Ada baru dimulai |
Memaksimalkan |
|
|
rumus-rumus materi berbagai materi
MP |
Belum ada |
Terwujud taman belajar pintar |
|
|
Bilah literasi |
Ada mading. vakum |
Memaksimalkan mading Pelangi,
taman literasi, perpustakaan Pelangi ilmu |
- RAB
Rencana Anggaran dan Belanja bersumber dari:
1. BOS
2. Iuran Dana Insidental (DI) Komite dan Iuran Dana Kegiatan Sekolah (DKS) dari
Komite
3. Mitra Kerja dan Rekanan
4. Bantuan Dinas Terkait Lintas Sektoran
(Dinas Pariwisata)
5. Sponsorship (non Perusahaan Rokok,
Minuman beralkohol dan Obat-obatan terlarang).
|
PROGRAM |
SASARAN |
HARAPAN |
ESTIMASI BIAYA |
|
Lettering |
Talud di pinggir jalan raya |
Pembenahan 20%, terwujud nameboard sekolah
besar cor |
7.500.000 |
|
|
Pojok halaman sekolah |
Terealisasi logo cor, tutwuri, logo sekolah |
4.000.000 |
|
|
Tiap tangga/trap cor |
Ada tulisan semboyan2 |
500.000 |
|
|
Buat ragam tulisan seni di taman dan di setiap
pojok Lorong, di tiap sisi lokasi |
Terealisasi berbagai tulisan yang kreatif |
1.000.000 |
|
Pengecatan |
Talut depan. |
Terpancar Pelangi2 warna yang kreatif |
10.000.000 |
|
|
taman |
Terwujud taman asri warna warni |
|
|
|
Lorong/selasar |
Terwujud Lorong/selasar indah warna
warni |
|
|
|
pilar Gedung |
Terwujud pilar gedung warna warni |
|
|
|
tembok Gedung. |
Terwujud tembok indah dan asri warna
warni |
|
|
|
Trap/tangga cor |
Terwujud trap/tangga cor indah warna
warni |
|
|
|
pot-pot permanen dan bergerak, |
Terwujud pot-pot estetik dan artistik
warna warni |
|
|
|
paving halaman |
Terwujud paving2 halaman kreasi warna
warni |
|
|
|
paving teras |
Terwujud paving teras selaras warna
warni |
|
|
Pengadaan media |
Tempat parkir sepeda motor guru dan
tamu |
Terwujud tempat parkir moto guru dan
tamu yang rapi berwarna warni |
10.000.000 |
|
|
Gazebo |
Direnovasi menjadi applied art |
1.000.000 |
|
|
haq/t. duduk cor |
Direnovasi menjadi applied art |
1.000.000 |
|
|
lampu-lampu gantung |
Terealisasi |
4.000.000 |
|
|
Taman air mancur |
Terselesaikan dengan warna-warni exotic |
2.500.000 |
|
|
pagar hidup bag. barat |
terealisasi |
1.000.000 |
|
|
bilah Bina Potensi, |
Terealisasi |
2.000.000 |
|
|
mural graffiti, |
Memaksimalkan |
1.000.000 |
|
|
rumus-rumus materi berbagai materi MP |
Terwujud taman belajar pintar |
1.000.000 |
|
|
Bilah literasi |
Memaksimalkan mading Pelangi, taman
literasi, perpustakaan Pelangi ilmu |
4.000.000 |
|
|
|
|
50.500.000 |
- JANGKA WAKTU
Realisasi program sekolah Pelangi selambat-lambatnya
2 tahun pelajaran dan dibagi menjadi dua tahap. Tahap ke-1 adalah tahun
pelajaran 2022/203 dan tahap ke-2 tahun pelajaran 2023/2024.
Orientasi program pada tahapan berprinsip
pada skala prioritas berdasarkan hasil kesepakatan dengan pihak penyandang dana
dengan sekola.
- PENUTUP
Program ini di buat oleh pihak sekolah
dan disetujui oleh Komite Sekolah, selanjutnya diajukan kepada Komite sekolah
dan rekanan dinas terkait dan lintas sektoral serta sponsorship. Sebagai
kelengkapan data dalam program ini melampirkan site plan dan foto-foto desain
komunikasi visual sebagai wacana dan pertimbangan untuk realisasi.
Lampiran-lampiran
:
Gambar-gambar
illustrasi
1. Talud pinggir jalan raya

2.
Halaman
depan dan taludnya

3.
Tangga halaman timur




Komentar
Posting Komentar