PROGRM SEKOLAH PELANGI


PROGRAM SEKOLAH PELANGI EDUKASI DAN DESTINASI

SMP NEGERI 2 SLAHUNG

 

A.      RASIONALISASI

1.       Latar Belakang gagasan sekolah pelangi

2.       Mutu Pendidikan

3.       Makna Pelangi dalam program sekolah pelangi

4.       misi EDUKASI DAN DESTINASI

B.      VISI MISI SEKOLAH

C.      TUJUAN

D.      MANFAAT

E.       PROGRAM REALISASI

F.       PELAKSANA DAN DAYA PENDUKUNG

G.      RAB

H.      WAKTU

 

 

A.      RASIONALISASI

1.       Latar Belakang pemikiran

 

“Pelangi-pelangi, alangkah indahmu

Merah kuning hijau, dilangit yang biru

Pelukismu agung, siapa gerangan

Pelangi-pelangi, ciptaan Tuhan.

Lirik singkat penuh makna dalam lagu yang berjudul Pelangi yang ciptaan AT Mahmud. Menurut sebuah artikel berjudul "Lirik dan Chord Lagu Anak, Pelangi, Ciptaan AT Mahmud" yang dirilis sebuah media siber nasional pada Rabu, 1 Juli 2020 dinyatakan lagu ini terinspirasi dari pengalaman pribadi AT Mahmud saat mengantar anaknya ke sekolah.

Mengapresiasi lagu tersebut tersirat dalam imajinasi rasional bahwa lagu itu merupakan simbol masalah yang terjadi di berbagai lembaga pendidikan mulai formal, non formal sampai dengan informal. Pertanyaan ini tidak perlu diperdebatkan bahkan jangan dipertanyakan kebenarannya karena apresiasi adalah pernyataan, ulasan, tinjauan, kritik, saran dan pendapat dengan interprestasi bebas atas karya seni yang ada dalam hal ini lagu anak-anak.

Berbagai persoalan dalam lembaga pendidikan formal sekolah, salah satu contoh masalah yang belum terselesaikan mengenai parameter nasional kualifikasi mutu sekolah dalam pendidikan. Bukti yang nyata adalah penentuan standar mutu Pendidikan di Indonesia belum mampu mewadahi semua sekolah, disebabkan karena berbagai faktor internal maupun eksternal. Sedangkan di wilayah perkotaan dan daerah-daerah yang dijadikan tolok ukur se Indonesia menurut sensus data BPS dan Kemendibud terdiri dari 1.331 suku bangsa dan 652 bahasa daerah yang tersebar di 514 kabupaten/kota yang tersebar di 34 provinsi secara rinci, ada 416 kabupaten, 93 kota dan 5 kota administrative di seluruh tanah air tentu belum mampu menjadi sampel di seluruh wilayah Indonesia.

Yang paling mencolok adalah pruralitas budaya, tradisi, geografis, sumber daya alam, sumber daya manusia, teknologi, jangkauan komunikasi informasi, sarana dan prasarana, fasilitas yang tersedia, media yang menjembatani, ketersediaan pendukung sekolah, dan faktor-faktor kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan serta peserta didik itu sendiri.

Meskipun kita mengetahui berbagai keputusan peraturan dan perundang-undangan Pendidikan nasional, maka semua factor di atas perlu dilakukan kajian mendalam sampai ke hal-hal yang bersifat fundamental dan sekcil-kecilnya. Misalnya dilakukan pemetaan mutu dengan parameter Ujian Nasional sekalipun belum mampu meng_cover  semuan elemen-elemen yang dipersyaratkan. Semua potensi dengan standar Ujian Nasional secara akademis danhal tersebut tidak bisa dijadikan standar mutu secara nasional, terbukti tidak ada jaminan sukses akademik dipastikan sukses membangun masa depan tanpa factor-faktor non akademis, bahkan banyak kesuksesan peserta didik yang dilatar belakangi oleh kompetensi dan potensi yang bersifat non akademis.

Penghapusan UN secara tidak langsung akan mengubah cara pandang para orang tua peserta didik pada lembaga bimbingan belajar. Bisa jadi mereka akan berpikir buat apa memberikan tambahan pendidikan pada anak melalui bimbingan belajar jika UN dihapuskan? Sementara cara berpikir seperti ini sedikit banyak pasti akan mempengaruhi kelangsungan hidup lembaga pendidikan non formal tersebut. Begitu juga dalam lembaga pendidikan informal seperti keluarga. Sampai sekarang belum ada acuan yang benar-benar pas bagi lembaga ini untuk mengadakan penyelenggaraan pendidikan yang tepat.

Dalam lembaga pendidikan non formal juga begitu. Bisa jadi dalam lembaga ini terjadi begitu banyak masalah. Contohnya lembaga bimbingan belajar. Hanya saja masalah tersebut tidak sampai muncul ke permukaan walau mungkin bergelora dalam lembaganya. Apalagi saat pemerintah menghapus Ujian Nasional (UN) pada tahun pelajaran kemarin. Sementara pemerintah sendiri juga kurang apresiatif. Hal ini dibuktikan dengan Pasal 27 Ayat 1 UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Dalam pasal tersebut dinyatakan kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Pada satu sisi pernyataan dalam pasal tersebut dapat dinilai positif meski pada sisi lain juga bermakna negatif.

Pernyataan dalam pasal tersebut dapat dinilai positif karena memberikan kebebasan lembaga keluarga mengadakan pendidikan dalam lembaganya secara mandiri. Artinya orang tua diakui pemerintah bahwa mereka tahu bentuk pendidikan yang baik untuk anaknya.

Pada sisi lain isi Pasal 27 Ayat 1 tersebut juga menimbulkan interprestasi lain yang salah satu ketidakpedulian. Bisa jadi isi pasal tersebut menimbulkan kesan pemerintah kurang apresiatif terhadap lembaga informal. Buktinya penyelenggaraan pendidikan diserahkan begitu saja secara mandiri pada keluarga. Benar tidaknya interprestasi tersebut dapat diperdebatkan meski tidak perlu dilakukan. Jika interprestasi tersebut kurang tepat maka harus dicari solusinya bersama. Artinya tidak ada kebenaran sejati selain milik-Nya.

Satu hal yang pasti, beberapa masalah yang telah disampaikan secara garis besar dalam lembaga formal, non formal dan informal di atas hanya secuil masalah dalam dunia pendidikan di Indonesia. Jika mau diteliti masih banyak masalah lain yang sampai sekarang masih terus diusahakan solusinya.

Sekarang yang harus dipertanyakan mengapa dalam lagu Pelangi hanya disebutkan tiga warna pelangi yaitu merah, kuning dan hijau? Bukankah warna pelangi lebih dari itu? Apakah sang penulis lagu memiliki keterbatasan pengetahuan tentang warna? Apakah warna pelangi yang muncul di langit saat AT Mahmud menulis lagu itu memang hanya tiga warna? Apakah ada maksud tertentu dengan menyampaikan warna pelangi dengan tiga warna saja? Jawaban atas semua pertanyaan di atas masih gelap. Bisa jadi tiga warna tersebut simbol dan bukan sekedar warna sebab warna pelangi lebih dari tiga macam. Benar tidaknya hal ini hanya penulis lagu yang tahu. Kita hanya dapat menikmati lagu tersebut sambil meraba makna simbolik yang mungkin terselip di baliknya.

Jika memang AT Mahmud menulis lagu itu saat mengantar anaknya ke sekolah dan jika berbagai masalah pendidikan di Indonesia simbolkan dengan warna pelangi, maka seharusnya warna pelangi bukan tiga tapi seratus warna pelangi pendidikan. Bahkan bisa lebih dari itu sebab pendidikan di Indonesia begitu komplek yang jika ingin dibahas tuntas pasti sulit ditemukan ujungnya.

Setiap masalah dalam pendidikan di Indonesia harus dimaknai positif. Sudah seharusnya kita bahagia dengan masalah yang datang. Setiap masalah akan membuat pendidikan di Indonesia semakin kuat jika kita mampu menyelesaikannya. Lebih dari itu setiap masalah yang datang kadang ujian dari Tuhan. Jadi mari kita nyanyikan lagu Pelangi karya AT Mahmud itu dengan gembira karena pelangi-pelangi, ciptaan Tuhan

Dalam lembaga pendidikan formal sekolah, salah satu contoh masalah yang belum terselesaikan mengenai kekerasan dalam pendidikan. Buktinya sampai sekarang masih terdengar berita-berita Pendidikan yang bermutu yang ungul prestasi akademiknya, deskriminasi program mata pelajaran eksakta, IPA, MATEMATIKA “seolah” satu level lebih unggul di atas ilmu-ilmu sosial, agama, seni, keterampilan, olah raga. Atau mereka yang ada dijalur eksakta lebih hebat, lebih keren atau berasa lebih mentereng. Seidentik dengan yang lulus dengan nilai IPA, Matematika lebih sukses, lebih bersifat prestatif. Paradigma seperti ini yang banyak terjadi kesenjangan mengenai kualifikasi mutu Pendidikan dan sekarang masuk dalam ranah  integrated system of educational program domain (bidang Garapan Pendidikan pada sistim terpadu)

2.       Mutu Pendidikan

Mutu pendidikan diukur secara universal baik dari segi input, proses, output maupun outcome. Aada 13 karakteristik yang dinilai dalam hal mutu pendidikan yaitu : a. Kinerja (performan). b. Waktu wajar (timelines) c. Handal (reliability) d. Data tahan (durability) e. Indah (aesteties). f. Hubungan manusiawi (personal interface). g. Mudah penggunaanya (easy of use). h. Bentuk khusus (feature). i. Standar tertentu (comformence to specification). j. Konsistensi (concistency). k. Seragam (uniformity). l. Mampu melayani (serviceability). m. Ketepatan (acuracy)

Menganalisis permasalahan mutu Pendidikan di era gencarnya teknologi komunikasi dan informatika semakin kompleks. Bahkan sesungguhnya setiap bidang yang berkualitas akan berada pada ruang gerak kreasi dan inovasinya masing-masing. Sehingga secara signifikan bisa dinyatakan bahwa mutu Pendidikan suatu sekolah akan sangat bergantung dari banyaknya factor sebagaimana dalam penjabaran di atas.

Dengan demikian permasalahan sekolah tentang berbagai mutu berdasarkan output tidak bisa dipandang sebelah mata, Bisa jadi sukses karena akademis dan bisa pula sukses karena non akademis.

Mengkaji tentang Mutu pendidikan terdiri, dari kata mutu dan pendidikan. Mutu dalam bahasa arab ‘hasan’ yang  artinya baik, dalam bahasa Inggris “quality artinya mutu, kualitas” Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia “Mutu adalah (ukuran ), baik buruk suatu benda; taraf atau derajat (kepandaian, kecerdasan, dsb)”. Secara istilah mutu adalah “Kualitas memenuhi atau melebihi harapan pelanggan”.

Dengan demikian mutu adalah tingkat kualitas yang telah memenuhi atau bahkan dapat melebihi dari yang diharapkan. Pendidikan menurut Imam Al-Ghazali adalah “Sebuah wasilah untuk mencapai kemulian dan menyerahkan jiwa untuk mendekat diri kepada Tuhan”. Berdasarkan Undang Undang Sisdiknas No. II Tahun 2003 pendidikan adalah : “Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, keperibadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”

“Berdasarkan tinjauan mutu pendidikan dari segi proses dan hasil mutu pendidikan dapat dideteksi dari ciri-ciri sebagai berikut : kompetensi, relevansi, fleksibelitas, efisiensi, berdaya hasil, kredibilitas”. Menurut Mujamil mutu pendidian adalah “Kemampuan lembaga pendidikan dalam mendayagunakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan belajar seoptimal mungkin”. Berdasarkan beberapa pendapat dapat disimpulkan mutu pendidikan adalah kualitas atau ukuran baik atau buruk proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui upaya bimbingan pengajaran dan pelatihan. Mutu di bidang pendidikan meliputi mutu input, proses, output, dan outcome. Input pendidikan dinyatakan bermutu jika siap berproses. Proses pendidikan bermutu apabila mampu menciptakan suasana Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, dan Menyenangkan (PAKEM)

Kinerja (performan) berkaitan dengan aspek fungsional sekolah yang terdiri dari kinerja guru dalam mengajar. “Guru merupakan salah satu pelaku dalam kegiatan sekolah. Oleh karena itu ia dituntut untuk mengenal tempat bekerjanya itu. Guru perlu memahami faktor-faktor yang langsung dan tidak langsung menunjang proses belajar mengajar”. Waktu wajar (timelines) yaitu sesuai dengan waktu yang wajar meliputi memulai dan mengakhiri pelajaran tepat waktu, waktu ulangan tepat. Handal (reliability) yaitu usia pelayanan bertahan lama. Meliputi pelayanan prima yang diberikan sekolah menjadi prinsip agar pihak yang dilayani merasa senang dan puas atas layanan yang diberikan sehingga menjadi pelanggan yang baik dan setia. Hal ini sesuai dengan sikap kaum Ansor dalam menerima kuam Muhajirin yang diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 9:

 

Artinya : Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Ansor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Ansor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung11 . Isi kandungan ayat tersebut diantaranya yaitu (1) Adanya usaha menghormati orang lain ( kaum Muhajirin), (2) Kerelaan kaun Ansor apa yang diberikan kepada kaum Muhajirin, (3) Kaum Ansor mengutamakan penghormatan kepada kaum Muhajirin, (4) Kaum Ansor rela mengalahkan kepentingan sendiri. Isi kandungan ayat tersebut dapat diterapkan dalam dunia pendidikan dengan menerapkan manajemen layanan pendidikan dalam mencapai mutu pendidikan yang berakhlak. Daya tahan (durability) yaitu tahan banting, misalnya meskipun krisis moneter, sekolah masih tetap bertahan. Indah (aesteties) misalnya eksterior dan interior sekolah ditata menarik, guru membuat media-media pendidikan yang menarik. Hubungan manusiawi (personal interface) yaitu menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan profesionalisme. Hal ini bisa dicapai apabila terjalin komunikasi yang sehat. “Dari komunikasi itu bisa diperoleh suasana yang akrab dan harmonis, bahkan bisa mendamaikan dua pihak yang bertikai”. Mudah penggunaanya (easy of use) yaitu sarana dan prasarana dipakai. Misalnya aturan-aturan sekolah mudah diterapkan, bukubuku perpustakaan mudah dipinjam dikembalikan tepat waktu

Bentuk khusus (feature) yaitu keuggulan tertentu misalnya sekolah unggul dalam hal penguasaan teknologi informasi (komputerisasi). “Persyaratan pertama bagi kepemimpinan pengajaran adalah guru hendaknya memiliki visi mengenai unggulan dalam mengajar”.

Standar tertentu (comformence to specification) yaitu memenuhi standar tertentu. Misalnya sekolah telah memenuhi standar pelayanan minimal. Konsistensi (concistency) yaitu keajegan, konstan dan stabil, misalnya mutu sekolah tidak menurun dari dulu hingga sekarang, warga sekolah konsisten dengan perkataanya. Standar yang dimaksud adalah :

1.       Seragam (uniformity) yaitu tanpa variasi, tidak tercampur. Misalnya sekolah melaksanakan aturan, tidak pandang bulu, seragam berpakaian.

2.       Mampu melayani (serviceability) yaitu mampu memberikan pelayanan prima. Misalnya sekolah menyediakan kotak saran dan saransaran yang masuk mampu dipenuhi dengan baik sehingga pelanggan merasa puas.

3.       Ketepatan (acuracy) yaitu ketepatan dalam pelayanan sesuai dengan yang diinginkan pelanggan sekolah.

Standar Mutu Pendidikan Pemahaman dan persepsi dalam hal standar mutu pendidikan terdapat perbedaan yang disebabkan oleh adanya perbedaan sudut pandang antara pakar satu dengan pakar lainnya.

Pertama: sebagian orang, bahkan pada umumnya para orang tua mengatakan bahwa kenyamanan sekolah itu merupakan salah satu tolak ukur terbaik

Ke dua :pihak lain berpendapat bahwa hasil belajar atau hasil akademik yang menunjukan sekolah tersebut menunjukan sekolah yang baik karena menurut pendapat ini dari buahnya anda mengenali mereka,

Ketiga :sebagian orang mengemukakan bahwa ada beberapa ciri atau tolak ukur yang akan memperlihatkan mutu suatu sekolah.

Cyil merangkum pendapat mutu dari sudut pandang yang berbeda menggunakan tolak ukur yang berbeda. Sebagian orang menggunakan tolak ukur berdasarkan kondisi sekolah, sebagain lain menggunakan tolak ukur prestasi hasil belajar, dan pendapat yang lebih luas menyatakan tolak ukur mutu pendidikan perlu ditinjau dari berbagai tolak ukur yang relevan.

Pandangan ke tiga diperkuat dengan pandangan Mujamil yang menyatakan bahwsa “Lembaga pendidikan dikatan bermutu jika input, proses, dan hasilnya dapat memenuhi persyaratan yang dituntut oleh pengguna jasa pendidikan”. Meskipun Mujamil menggunakan tolak ukur input, proses dan hasil, namun titik tolak ukur mutu pendidikan menurut Mujamil adalah pengguna jasa pendidikan, yang berarti lebih berfokus pada out put yaitu potensi dan nilai guna para alumni dalam kehidupan.

Menurut Usman “Output dinyatakan bermutu apabila hasil belajar akademik dan nonakademik siswa tinggi. Outcome dinyatakan bermutu apabila lulusan cepat terserap di dunia kerja, gaji wajar, semua pihak mengakui kehebatannya lulusannya dan merasa puas”.

Sedangkan menurut Hari Sudradjad pendidikan yang bermutu adalah Pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan atau kompotensi, baik kompetensi akademik maupun kompetensi kejuruan, yang dilandasi oleh kompetensi personal dan sosial, serta nilai-nilai akhlak mulia, yang keseluruhannya merupakan kecakapan hidup (life skill), pendidikan yang mampu menghasilkan manusia seutuhnya (manusia paripurna) atau manusia dengan pribadi yang integral (integrated personality) mereka yang mampu mengintegralkan iman, ilmu, dan amal.

Pandangan yang lebih komprehensif tentang mutu pendidikan dikemukakan oleh Sardi. Standar mutu pendidikan sesuai ISO 9001 : 2008 adalah sebagai beikut :

a. Komponen standar isi, sasaran mutu :

1) Pengembangan KTSP berdasarkan guru mata pelajaran, konselor, dan komite sekolah penyelenggara

2) Lebih dari 76 % Silabus dikembangkan sesuai dengan pedoman

3) Sekolah memenuhi standar memenuhi kebutuhan peserta didik.

b. Komponen standar proses, sasaran mutu :

1) Semua guru membuat RPP sesuai dengan aturan.

2) 76 % guru melakukan pembelajaran berbasis teknologi

3) 76 % siswa dapat melakukan prakerin sesuai kompetensinya

4) Hasil evaluasi guru semuanya baik

c. Komponen standar kompetensi lulusan, sasaran mutu :

1) Rata-rata Hasil Ujian Sekolah

2) KKM kelas VIII dan kelas IX

3) Siswa memperoleh berbagai macam keterampilan

d. Komponen standar pendidik dan kependidikan, sasaran mutu :

1) Meningkatkan kualifikasi PTK

2) Meningkatkan kompetensi (pelatihan) PTK

e. Komponen standar sarana dan prasarana, sasaran mutu :

1) Semua bahan ajar yang diperlukan siswa tersedia

2) Menambah sarana dan prasarana

f. Komponen standar pengelolaan, sasaran mutu :

1) Semua unsur terlibat dalam kerja tim pengembangan

2) RKJM/RKT/RAKS berdampak terhadap peningkatan hasil belajar.

3) Sistem informasi dengan menggunakan website /softcopy

g. Komponen standar pembiayaan, sasaran mutu :

1) Sekolah membayar gaji guru dan karyawan tepat waktu

2) 95 % penggunaan anggaran sesuai dengan rencana

3) 90% siswa membayar SPP tepat waktu 

h. Komponen standar penilaian, sasaran mutu :

1) 100% guru menilai berdasarkan silabus yang telah ditetapkan

2) Ada penilaian baik bidang akademik maupun non akademik

3) Seluruh hasil penilaian siswa di dokumentasikan.

 

Perbedaan persepsi tentang mutu pendidikan merupakan hal wajar, karena masing-masing pihak mendefinisikannya dari sudut pandang dan kemampuan dalam menganalisis yang beragam. Badan/lembaga pelaksana yang terlibat dalam kegiatan penjaminan mutu, baik tingkat, dasar, menengah maupun pergururan tinggi adalah Badan Standar Nasional Pendidikan yang selanjutnya disebut BSNP adalah badan mandiri dan independen yang bertugas mengembangkan, memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi standar nasional pendidikan.

Penilaian dilakukan melalui akriditasi dengan berpedoman pada peringkat nilai sebagai berikut : Sekolah/Madrasah memperoleh peringkat akreditasi sebagai berikut.

a. Peringkat akreditasi A (Sangat Baik) jika sekolah/madrasah memperoleh Nilai Akhir Akreditasi (NA) sebesar 86 sampai dengan 100 (86 < NA < 100).

b. Peringkat akreditasi B (Baik) jika sekolah/madrasah memperoleh Nilai Akhir Akreditasi sebesar 71 sampai dengan 85 (71 < NA < 85).

c. Peringkat akreditasi C (Cukup Baik) jika sekolah/madrasah memperoleh Nilai Akhir Akreditasi sebesar 56 sampai dengan 70 (56 < NA < 70)19

 

Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Untuk meningkatkan mutu madrasah menurut Sudarwan Danim melibatkan lima faktor yang dominan :

(1) Kepemimpinan Kepala sekolah;

(2) Siswa/ anak sebagai pusat;

(3) Pelibatan guru secara maksimal;

(4) Kurikulum yang dinamis;

(5) Jaringan Kerjasama”.

Kepala sekolah harus memiliki dan memahami visi kerja secara jelas, mampu dan mau bekerja keras, mempunyai dorongan kerja yang tinggi, tekun dan tabah dalam bekerja, memberikan layanan yang optimal, dan disiplin kerja yang kuat. Pendekatan yang harus dilakukan adalah “anak sebagai pusat “ sehingga kompetensi dan kemampuan siswa dapat digali sehingga sekolah dapat menginventarisir kekuatan yang ada pada siswa . Jaringan kerjasama tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah dan masyarakat semata (orang tua dan masyarakat ) tetapi dengan organisasi lain, seperti perusahaan / instansi sehingga output dari sekolah dapat terserap didalam dunia kerja

Peningkatan mutu pendidikan harus mengambil langkah sebagai berikut :

a. Pemerintah menanggung biaya minimum pendidikan yang diperlukan anak usia sekolah baik negeri maupun swasta yang diberikan secara individual kepada siswa.

b. Optimalisasi sumber daya pendidikan yang sudah tersedia, antara lain melalui double shift ( contoh pemberdayaan SMP terbuka dan kelas jauh )

c. Memberdayakan sekolah-sekolah swasta melalui bantuan dan subsidi dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran siswa dan optimalisasi daya tampung yang tersedia.

d. Melanjutkan pembangunan Unit Sekolah Baru (USB ) dan Ruang Kelas Baru (RKB ) bagi daerah-daerah yang membutuhkan dengan memperhatikan peta pendidiakn di tiap-tiap daerah sehingga tidak mengggangu keberadaan sekolah swasta.

e. Memberikan perhatian khusus bagi anak usia sekolah dari keluarga miskin, masyarakat terpencil, masyarakat terisolasi, dan daerah kumuh.

f. Meningkatkan partisipasi anggota masyarakat dan pemerintah daerah untuk ikut serta menangani penuntasan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.

 

Sedangkan peningkatan mutu sekolah secara umum dapat diambil suatu strategi dengan membangun akuntabilitas pendidikan dengan pola kepemimpinan , seperti kepemimpinan sekolah Kaizen yang menyarankan :

a. Untuk memperkuat tim-tim sebagai bahan pembangun yang fundamental dalam struktur perusahaan

b. Menggabungkan aspek–aspek positif individual dengan berbagai manfaat dari konsumen

c. Berfokus pada detail dalam mengimplementasikan gambaran besar tentang perusahaan

d. Menerima tanggung jawab pribadi untuk selalu mengidentifikasikan akar menyebab masalah

e. Membangun hubungan antar pribadi yang kuat

f. Menjaga agar pemikiran tetap terbuka terhadap kritik dan nasihat yang konstruktif

g. Memelihara sikap yang progresif dan berpandangan ke masa depan

h. Bangga dan menghargai prestasi kerja

i. Bersedia menerima tanggung jawab dan mengikuti pelatihan.

 

Menurut Lewis peningkatan mutu organisasi apapun didukung oleh empat kekuatan pendorong, atau pilar, yang menggerakan organisasi menuju penerapan pelayanan mutu.

Total Quality Management in any organization is supported by four driving forces, or pillars, that move the organization toward the full application of quality service. The four pillars of the House of Quality are customer service, continuous improvement, processes and facts, and respect for people. All are distinct, but equal in potential strength. All four must be addressed; minimizing one weakens the others. By not addressing one, the entire house of Quality will fall.

 

Empat pilar mutu yang dimaksud yaitu

(1) Layanan pelanggan,

(2) Perbaikan terus-menerus,

(3) Proses dan fakta-fakta,

(4) Menghormati orang.

Setiap lembaga pendidikan masalahnya berbeda tetapi inti permasalahannya sama. Keempat pilar harus ditangani dengan baik dalam rangka meminimalkan kesalahan. Salah satu pilar tidak dijalankan dengan baik dapat meruntuhkan mutu pendidikan secara keseluruhan.

Penjaminan Mutu Pendidikan “Penjaminan mutu pendidikan merupakan suatu konsep dalam manajemen mutu pendidikan”. Madrasah yang dikelola dengan manajemen mutu pendidikan harus memberi jaminan bahwa pelayanan pendidikan yang diberikan dapat memenuhi bahkan melampaui harapan para pelanggan baik pelanggan internal maupun eksternal. Pelanggan internal yaitu guru dan karyawan. Pelanggan eksternal terdiri dari pelanggan eksternal primer (peserta didik), pelanggan eksternal sekunder (orang tua, masyarakat, pemerintah), dan pelanggan ekternal tersier (pemakai lulusan). Kata kuncinya adalah “Orang tua puas dengan layanan terhadap anaknya maupun layanan kepada orang tua”

Sistem penjaminan mutu pendidikan sangat penting dilakukan agar madrasah benar-benar mengelola pendidikan yang bermutu, sehingga menjadi madrasah yang diidolakan masyarakat. “Bila tidak ada penjaminan mutu berdasarkan pagu yang baku ini akan dapat menimbulkan disparitas mutu pendidikan lintas sekolah dan lintas daerah”. Demikian pula konsep mutu perlu dibakukan agar terdapat persepsi yang sama. “Lembaga pendidikan dikatakan bermutu jika input, proses, dan hasilnya dapat memenuhi persyaratan yang dituntut oleh pengguna jasa pendidikan”. Penjaminan mutu pendidikan dapat dilakukan secara formal maupun informal. Penjaminan mutu formal dilakukan oleh lembaga mandiri (eksternal) yang bersifat independen, sedangkan yang informal dilakukan oleh suatu gugus penjaminan mutu yang ada di dalam organisasi atau lembaga itu.

Penjaminan mutu secara formal dengan menerapkan pembakuan mutu model ISO 9000 bisa diterapkan dalam bidang pendidikan. ISO 9000 standar terdiri dari lima dokumen yaitu : ISO 9000, merupakan penjelasan menyeluruh dalam garis besar yang memberikan pedoman untuk seleksi dan menggunakan standar lainnya. ISO 9001 yaitu standar yang memfokus ada 20 aspek program kualitas perusahaan yang mendesain, menghasilkan, merakit, dan melayani produk. ISO 9002 mencakup bidang yang sama bagi perusahaan yang mempunyai aktivitas di lokasi lain. ISO 9003, mempunyai lingkup terbatas dan ditunjukan hanya untuk proses produksi. ISO 9004, terdiri dari pedoman untuk menginterprestasikan standar lainnya.

ISO 9000 disusun berdasarkan delapan prinsip manajemen kualitas. delapan prinsip ini dapat dipakai oleh manajemen senior sebagai suatu kerangka kerja (framework) untuk membimbing organisasi-organisasi mereka menuju peningkatan prestasi. Prinsip-prinsip tersebut diperoleh dari pengalaman dan pengetahuan kolektif dari para ahli internasional yang berpartisipasi dalam komite teknik ISO

Konsep Manajemen Mutu Pendidikan Ada tiga tahap konsep manajemen mutu pendidikan menurut Muhaimin yaitu :

Tahap 1 : Infentarisasi, penetapan, stakeholder dan kegiatan utama lembaga pendidikan ( infentarisir dan penetapan kebutuhan stakeholder, mengidntifikasi stakeholder potensial, menganalisis stakeholder potensial);

Tahap 2 : Memformulasi strategi lembaga pendidikan ( mengembangkan visi dan misi, penetapan tujuan strategis, menganalisis SWOT, melakukan pengukuran kinerja, mengidentifikasi fokus strategi, evaluasi portofolio,

Tahap 3 : Mengembangkan rencana kegiatan utama ( penentuan sasaran, pengembangan rencana program, penetapan rencana aktifitas, seleksi teknis analisis).

Berdasarkan pemaparan latar belakang dan penjabaran tentang mutu Pendidikan maka muncul gagasan pokok untuk membawa SMPN 2 Slahung menjadi sekolah yang memiliki karakteristik sebagai salah satu sekolah yang memiliki unggulan baik dalam internal maupun eksternal, kenatipun secara geografis sekolah ini berada di pelosok desa. Oleh karena itu dari fenomena-fenomena yang tampak pada pengamatan  yang kami lakukan tercetuslah ide Sekolah Pelangi Edukasi dan Destinasi.

 

3.       Makna program sekolah Pelangi , Edukasi dan Destinasi

a.       Pengertian Pelangi

Tersirat dalam benak kita istilah pelangi merupakan sebuah tumpukan dari beberapa warna. Pelangi ialah suatu fenomena akibat dari pembiasan cahaya yang berasal dari percikan-percikan air (air hujan) yang terkena cahaya matahari yang kemudian membentuk sebuah busur  cahaya dengan tujuh warna dasar. Ketujuh warna tersebut antara lain, merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu atau mejikuhibiniu.

Beberapa ahli, mengartikan, Seperti Newton, berpendapat bahwa pelangi adalah spektrum yang dihasilkan dari pembelokan sinar yang masuk melalui prisma. Dimana terdapat tujuh warna dasar antaralain, merah, orange, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Sedangkan Lord Rayleigh menyatakan bahwa pelangi dan efek cahaya yang muncul di langit disebabkan oleh cahaya yang dibiaskan dan terdistrosi oleh partikel-partikel uap air.

Pembiasan Sinar Matahari, Pelangi dapat muncul disebabkan oleh pembelokan atau pembiasan cahaya matahari yang terjadi di atmosfer bumi, dimana cahaya matahari sebelum masuk ke permukaan bumi akan ditahan melalui atmosfer. Lapisan atmosfer ini yang menahan cahaya matahari dari medium satu menuju medium yang lainnya, dan kemudian sinar matahari tersebut masuk ke titik-titik air hujan.

Sinar Matahari Masuk Melalui Presipitasi Air Hujan, Ketika cahaya matahari tertahan oleh lapisan atmosfer, agar sinar matahari dapat menuju permukaan bumi dengan melalui presipitasi air hujan. Presipitasi air hujan adalah jumlah titik–titik air hujan yang akan masuk ke permukaan bumi. Namun titik-titik air hujan tersebut tidak dapat turun dengan lurus ke bawah, yang akhirnya membuat cahaya matahari yang terbawa ikut dibelokkan oleh presipitasi air hujan.

Pembelokan cahaya matahari oleh presipitasi air hujan mengakibatkan dampak warna cahaya matahari yang telah berkumpul menjadi satuan warna putih akan terpisah antara satu warna dengan warna lainnya dan akhirnya terbentuklah pembiasan cahaya menjadi warna warna merah jingga kuning hijau biru nila dan ungu.

Cahaya yang Dibelokkan. Setelah cahaya sudah terkumpul menjadi satuan warna, yaitu warna putih, tetapi warna tersebut hanya bertahan pada saat cahaya matahari masih tertahan pada lapisan atmosfer. Setelah itu warna tersebut akan menyebar menjadi tujuh warna dikarenakan pembelokkan sudut dan menjadikan tujuh warna indah pada pelangi. Inilah sebabnya pelangi berbentuk seperti busur.

Terbentuknya Warna PelangiPelangi yang awalnya terbentuk dari perputaran warna matahari yang terlihat putih akhirnya berubah menjadi tujuh warna dasar yang merupakan warna awal dari cahaya matahari. Warna yang pertama kali dibelokkan oleh cahaya pelangi adalah warna ungu, sedangkan pembelokkan cahaya matahari oleh presipitasi air hujan yang terakhir adalah warna merah. Hal ini berbanding terbalik pada penyebutan warna warna merah jingga kuning hijau biru nila dan ungu pada pelangi.

Berdasarkan deskripsi tentang Pelangi SMPN 2 Slahung Ponorogo, terinspirasi untuk memujudkan makna Pelangi dalam membawa visi dan misi sekolah secara kompleksitas, baik dalam visualisasi maupun misi kualifikasi akademik dan non akademik dengan pemberdayaan sumber daya yang dimiliki dengan membangun Kerjasama dengan lingkungan masyarakat sekitar, stakeholder, tokoh masyarakat, rekanan dan mitra kerja sekolah yaitu komite.  

Mengintegrasikan unsur-unsur dalam Visi sekolah yang berbudaya, agamis, nasionalis, unggul dan antusias serta menyenangkan, dengan Visualisasi lingkungan yang aman, sejuk dan nyaman.

b.         Pengertian Edukasi dan Destinasi

Edukasi adalah suatu proses pembelajaran yang dilakukan baik secara formal maupun non formal yang bertujuan untuk mendidik, memberikan ilmu pengetahuan, serta mengembangkan potensi diri yang ada dalam diri setiap manusia. Kemudian mewujudkan proses pembelajaran tersebut dengan lebih baik. Selain itu, edukasi adalah upaya mengubah sikap dan perilaku seseorang ataupun kelompok dalam bentuk pendewasaan melalui proses latihan maupun melalui proses pembelajaran.

Beberapa tokoh Pendidikan seperti MJ. Langeveld mendefinisikan bahwa edukasi adalah upaya manusia dewasa membimbing manusia yang belum dewasa kepada kedewasaan. Menurutnya juga edukasi adalah usaha menolong anak untuk melaksanakan tugas-tugas hidupnya, agar bisa mandiri, akil-baligh, dan bertanggung jawab secara Susila. Dan Ahmad D Marimba mengartikan edukasi adalah suatu bimbingan yang dilakukan secara sadar oleh pihak pendidikan, baik di perkembangan jasmani maupun rohani agar menjadi lebih baik. Serta Notoadmojo menyatakan edukasi adalah pendidikan yang berarti suatu upaya yang telah direncanakan oleh seseorang agar dapat mempengaruhi orang lain, baik individu maupun kelompok dan juga masyarakat. Sehingga dengan adanya pendidikan ini mampu menjadikan sesuatu tersebut menjadi lebih baik.

Tuohino & Konu (2014) menyatakan bahwa pengertian dari destinasi adalah area geografis sebagai lokasi yang dapat menarik wisatawan untuk tinggal secara sementara yang terdiri dari berbagai produk periwisata, sehingga membutuhkan berbagai prasarat untuk merealisasikannya

Destinasi pariwisata itu merupakan suatu wilayah geografis seperti negara, pulau kabupaten, kota, kecamatan, desa, kampung atau kawasan pariwisata yang memiliki daya tarik seperti atraksi wisata, fasilitas, aksesibilitas, SDM, citra dan harga untuk dikunjungi dan ditinggali oleh individu atau kelompok secara sementara dalam suatu perjalanan yang disebut dengan migrasi wilayah. Oleh karena itu berkembanglah konsep yang disebut dengan area destinasi (destination area) dan area tempat asal pengunjung yang biasa disebut dengan origin.

Demikian pemahaman tentang makna Bahasa maupun etimologisnya pelangi, edukasi dan destinasi yang diprogramkan di sekolah pada awal tahun 2022 maka dapat ditegaskan bahwa program sekolah pelangi, edukasi dan destinasi merupakan sebuah program yang nantinya bertujuan mewujudkan SMPN 2 Slahung memiliki keunggulan dan karakteristik sebagaimana dalam visi dan misinya secara internal semua warga sekolah memiliki  budi pekerti yang santun, diselimuti suasana agamis, tetapi tetap memegang teguh nilai-nilai nasionalis atau kebangsaan dengan keunggulan akademis dan atau non akademis yang menanamkan sikap antusias dan progresif dalam lingkungan sekolah yang nyaman untuk singgah, belajar dengan bebagai fasilitas bina potensi  sehingga merasa betah di sekolah, berforma estetik, artistk dan etiks untuk belajar dan berlatih berbagai bidang ketrampilan dan seni. Sedang secara eksternal karena lokasi sekolah berada di lereng gunung dan di tepi jalan lintas nasional terwujud suasana lokasi wisata setidaknya memberi daya Tarik untuk rest area di sekitarnya, berpose dan berselfie ria, beristirahat

4.       Misi edukasi dan destinasi pada sekolah Pelangi

Sebagai pusat Pendidikan yang berhubungan dengan bidang pariwisata di SMPN 2 Slahung Ponorogo berbasis Edukasi alam terbuka dan naturalis untuk misi Pendidikan dan  mempertahankan kelestarian lingkungan, keramahan, dan kearifan local.

1.       Menciptakan suasana belajar yang artistic, Estetik dan etiks di dalam dan luar sekolah

2.       Menciptakan fasilitas belajar dan prasarana untuk belajar, out bond dan lokasi field trip

3.   Memberikan pembelajaran langsung dalam bentuk praktik di lapangan sebagai pengalaman berharga dalam kehidupan (life skill)

4. Memberikan pengalaman perjalanan wisata yang unik dan berbeda dalam bentuk edukasi aneka suasana alam pembelajaran dan pemelajaran alam yang mengedepankan prinsip kasih sayang terhadap sesame makhluk, lingkungan, keamanan, dan pelayanan.

5. Penyajian suasana sekolah sebagai obyek wisata yang nyaman dan sejuk dengan menpertahankan kelestarian alam sekitar.

4. Menjadi pusat kegiatan pendidikan dan training yang mengedepankan kualitas dan profesionalisme dalam pelayanan.

6. Ikut serta terlibat membangun dan mengembangkan wisata (object out bond/field Trip) yang berada di Wilayah Desa Wates, Kecamatan Slahung Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia Bersama masyarakat lokal (area masyarakat yang dulu pernah menjadi bumi Perkemahan Pramuka).

5. Lokasi

Lokasi Pengembangan Sekolah Pelangi adalah SMPN 2 Slahung dan lahan sekitar sekolah.

6 Bidang Garapan

1.       Pembuatan big letter sekolah di badan talut pinggir jalan raya, talut halaman, terasiring, taman tengah

2.       Pengecatan Pelangi talut, taman, Lorong, selasar, pilar Gedung, tembok Gedung. Trap/tangga cor, pot-pot permanen dan bergerak, paving halaman, paving teras.

3.       Pembuatan parkir, Gazebo dan haq/duduk cor

4.       Pembuatan lampu-lampu gantung

5.       Pembuatan taman tebing halaman dan belakang

6.       Pembuatan air mancur

7.       Pembuatan bilah Bina Potensi, mural graffiti, rumus-rumus materi berbagai pembelajaran

8.       Pembuatan bilah literasi

 

  1. VISI MISI SEKOLAH
  2. TUJUAN
  3. MANFAAT
  4. PROGRAM REALISASI

Program yang ingin direalisasikan untuk menciptakan karakteristik sekolah Pelangi yang berjargon edukasi dan destinasi adalah, visualisasi name board, pengecatan, pembuatan ikon sekolah berupa monument logo sekolah dan pembuatan bilah-bilah edukasi sebagai media pembelajaran yang berupa media bina potensi akademik.

Secara terperinci dapat dilihat pada matrik sebagai berikut :



 

PROGRAM

SASARAN

TARGET PENCAPAIAN

Lettering

Talud di pinggir jalan raya

Name board besar cor semen

 

Pojok halaman sekolah

Logo sekolah cor

 

Tiap tangga/trap cor

Beridentitas sekolah

 

Buat ragam tulisan seni di taman dan di setiap pojok Lorong, di tiap sisi lokasi

Semboyan, sasanti, pesan, kias, identitas tempat, naman nama dengan berbagai Bahasa (arab, latin, inggris) dengan seni dari berbagai media dan bahan

Pengecatan

Talut depan.

Terwujudnya nuansa warna warni kreasi yang bertema lingkungan sehat, pelestarian alam, pelajar Pancasila, cinta bersih dan asri, indah itu menyenangkan, kami bisa karena biasa, nuansa agamis, suasana senyum, sapa salam, kekeluargan

 

taman

 

Lorong/selasar

 

pilar Gedung

 

tembok Gedung.

 

Trap/tangga cor

 

pot-pot permanen dan bergerak,

 

paving halaman

 

paving teras

Pengadaan media

Tempat parkir sepeda motor guru dan tamu  

Dibangun tempat parkir berpaving atau berselasar/rabat 2 shaf

 

Gazebo

Perapian gazebo dan penataannya

 

haq/t. duduk cor

Ujung barat dan timur dan depan kelas atas terpasang tempat-tempat duduk cor di samping gazebo

 

lampu-lampu gantung

Terpasangnya lampion2 gantung di halaman depan

 

Taman air mancur

Tebing batu taman air mancur

 

pagar hidup bag. barat

Penanaman sono kembang

 

bilah Bina Potensi,

Area diskusi yang representatif

 

mural graffiti,

Muralisasi dengan graffiti bertajuk pelajar Pancasila

 

rumus-rumus materi berbagai materi MP

Menyediakan media tembok, pagar atau Lorong untuk mewadahi media belajar

 

Bilah literasi

Pemaksimalan madding, dan literasi, numerasi

 

 

  1. PELAKSANA DAN DAYA PENDUKUNG

Untuk mewujudkan program tersebut perluperencanaan yang matang, Teknik dan strategi, penugasan serta daya dukung yang rapi. Pelaksana dalam program tersebut menjadi tugas Sarana prasarana dan humas serta bendahara di bawah tanggung jawab kepala sekolah. Sedang daya dukung program tersebut sesuai dengan kondisi yang ada dapat dijabarkan sebagai berikut:

 

PROGRAM

SASARAN

DAYA DUKUNG

Kondisi nyata

Harapan

Lettering

Talud di pinggir jalan raya

Permanen 80% siap dan kondisi kosong

Pembenahan 20%, terwujud nameboard sekolah besar cor

 

Pojok halaman sekolah

Siap 100%

Terealisasi logo cor, tutwuri, logo sekolah

 

Tiap tangga/trap cor

Kosong 100%

Ada tulisan semboyan2

 

Buat ragam tulisan seni di taman dan di setiap pojok Lorong, di tiap sisi lokasi

Kosong 100%

Terealisasi berbagai tulisan yang kreatif

Pengecatan

Talut depan.

Kosong dan polos

Terpancar Pelangi2 warna yang kreatif

 

taman

Kosong dan polos

Terwujud taman asri warna warni

 

Lorong/selasar

Kosong dan polos

Terwujud Lorong/selasar indah warna warni

 

pilar Gedung

Kosong dan polos

Terwujud pilar gedung warna warni

 

tembok Gedung.

Kosong dan polos

Terwujud tembok indah dan asri warna warni

 

Trap/tangga cor

Kosong dan polos

Terwujud trap/tangga cor indah warna warni

 

pot-pot permanen dan bergerak,

Kosong dan polos

Terwujud pot-pot estetik dan artistik warna warni

 

paving halaman

Kosong dan polos

Terwujud paving2 halaman kreasi warna warni

 

paving teras

Kosong dan polos

Terwujud paving teras selaras warna warni

Pengadaan media

Tempat parkir sepeda motor guru dan tamu  

Belum ada, menggunakan teras

Terwujud tempat parkir moto guru dan tamu yang rapi berwarna warni

 

Gazebo

Ada, kurang bagus

Direnovasi menjadi applied art

 

haq/t. duduk cor

Ada, sudah rusak

Direnovasi menjadi applied art

 

lampu-lampu gantung

Belum ada

Terealisasi

 

Taman air mancur

Ada belum selesai

Terselesaikan dengan warna-warni exotic

 

pagar hidup bag. barat

Pagar duri sdh rusak

terealisasi

 

bilah Bina Potensi,

Belum ada

Terealisasi

 

mural graffiti,

Ada baru dimulai

Memaksimalkan

 

rumus-rumus materi berbagai materi MP

Belum ada

Terwujud taman belajar pintar

 

Bilah literasi

Ada mading. vakum

Memaksimalkan mading Pelangi, taman literasi, perpustakaan Pelangi ilmu

  1. RAB

Rencana Anggaran dan Belanja bersumber dari:

1.       BOS

2.       Iuran Dana Insidental (DI)  Komite dan Iuran Dana Kegiatan Sekolah (DKS) dari Komite

3.       Mitra Kerja dan Rekanan

4.       Bantuan Dinas Terkait Lintas Sektoran (Dinas Pariwisata)

5.       Sponsorship (non Perusahaan Rokok, Minuman beralkohol dan Obat-obatan terlarang).

PROGRAM

SASARAN

HARAPAN

ESTIMASI BIAYA

Lettering

Talud di pinggir jalan raya

Pembenahan 20%, terwujud nameboard sekolah besar cor

7.500.000

 

Pojok halaman sekolah

Terealisasi logo cor, tutwuri, logo sekolah

4.000.000

 

Tiap tangga/trap cor

Ada tulisan semboyan2

500.000

 

Buat ragam tulisan seni di taman dan di setiap pojok Lorong, di tiap sisi lokasi

Terealisasi berbagai tulisan yang kreatif

1.000.000

Pengecatan

Talut depan.

Terpancar Pelangi2 warna yang kreatif

10.000.000

 

taman

Terwujud taman asri warna warni

 

Lorong/selasar

Terwujud Lorong/selasar indah warna warni

 

pilar Gedung

Terwujud pilar gedung warna warni

 

tembok Gedung.

Terwujud tembok indah dan asri warna warni

 

Trap/tangga cor

Terwujud trap/tangga cor indah warna warni

 

pot-pot permanen dan bergerak,

Terwujud pot-pot estetik dan artistik warna warni

 

paving halaman

Terwujud paving2 halaman kreasi warna warni

 

paving teras

Terwujud paving teras selaras warna warni

Pengadaan media

Tempat parkir sepeda motor guru dan tamu  

Terwujud tempat parkir moto guru dan tamu yang rapi berwarna warni

10.000.000

 

Gazebo

Direnovasi menjadi applied art

1.000.000

 

haq/t. duduk cor

Direnovasi menjadi applied art

1.000.000

 

lampu-lampu gantung

Terealisasi

4.000.000

 

Taman air mancur

Terselesaikan dengan warna-warni exotic

2.500.000

 

pagar hidup bag. barat

terealisasi

1.000.000

 

bilah Bina Potensi,

Terealisasi

2.000.000

 

mural graffiti,

Memaksimalkan

1.000.000

 

rumus-rumus materi berbagai materi MP

Terwujud taman belajar pintar

1.000.000

 

Bilah literasi

Memaksimalkan mading Pelangi, taman literasi, perpustakaan Pelangi ilmu

4.000.000

 

 

 

50.500.000

 

  1. JANGKA WAKTU

Realisasi program sekolah Pelangi selambat-lambatnya 2 tahun pelajaran dan dibagi menjadi dua tahap. Tahap ke-1 adalah tahun pelajaran 2022/203 dan tahap ke-2 tahun pelajaran 2023/2024.

Orientasi program pada tahapan berprinsip pada skala prioritas berdasarkan hasil kesepakatan dengan pihak penyandang dana dengan sekola.

 

  1. PENUTUP

Program ini di buat oleh pihak sekolah dan disetujui oleh Komite Sekolah, selanjutnya diajukan kepada Komite sekolah dan rekanan dinas terkait dan lintas sektoral serta sponsorship. Sebagai kelengkapan data dalam program ini melampirkan site plan dan foto-foto desain komunikasi visual sebagai wacana dan pertimbangan untuk realisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran-lampiran :

Gambar-gambar illustrasi

1.       Talud pinggir jalan raya

2.       Halaman depan dan taludnya

3.       Tangga halaman timur

 

 



 

 

 

 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RAMALAN JAYABAYA

ESLADA KRIDA ROMANTIKA