Sasmita Kearifan Lokal : isyarat, Astrologi dan "petung tradisi Jawa" oleh: Mh Thoyib
Dalam
khazanah budaya Jawa sasmita atau isyarat telah lama
menjadi sesuatu yang memerlukan kecerdasan khusus untuk menangkapnya. Dari
konsep dan keyakinan tentang isyarat ini dapat terkuak bahwa pesthi atau
takdir ternyata tak selamanya merupakan misteri yang benar-benar di luar
kecerdasan seseorang.
Pada
peristiwa lailatul qadar, berdasarkan tilikan
Pakubuwana IV atas puasa dan berjaga malam dalam Serat Wulangreh,
orang paham tentang isyarat atau sasmita. Lailatul qadar turut
memberikan isyarat-isyarat tertentu yang bisa dirasakan dan ditangkap.
Pada
sepuluh hari terakhir bulan Ramadan umumnya masyarakat yang tengah menjalankan
ibadah puasa akan melakukan kegiatan menghidupkan malam.
Namun,
dalam tradisi budaya Jawa, terdapat hal yang unik terkait dengan lailatul
qadar. Konon tradisi ini telah dimulai sejak zaman kerajaan
Demak hingga kerajaan Mataram Kartasura.
Tradisi ini
biasanya dihelat menjelang malam ke-21 bulan Ramadan dan dikenal sebagai tradisi maleman.
Sebagaimana
peristiwa megengan yang dihelat menjelang puasa dan menjelang
Hari Raya Idul Fitri, tradisi maleman juga akan dilalui masyarakat Jawa dengan
beberapa ritual.
Ada yang
melakukannya dengan kirab dan slametan seperti
di keraton. Ada pula yang cukup menggelar slametan di masjid
atau langgar sebagaimana di pedesaan Jawa.
Barangkali, tradisi maleman yang dilalui dengan ritual slametan hanya
ada di kalangan masyarakat Jawa yang masih memegang erat tradisinya.
Dalam hal ini, orang bisa membayangkan bahwa tradisi maleman adalah seperti halnya “baiat” dalam
khazanah tarekat untuk melakoni sebuah suluk yang secara
teknis merupakan sebentuk metode penempaan diri.
Sebab, pada
malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan itu kalangan muslim
dianjurkan untuk memperbanyak ibadah-ibadah malam yang lebih dikenal
sebagai i’tikaf.
Persis
ketika seseorang tengah melakoni sebuah suluk, dalam i’tikaf itu
terdapat pula berbagai syarat dan rukunnya.
Sunan Bagus
atau Pakubuwana IV, yang menjadi salah satu sanad keilmuan
tarekat Akmaliyah, pernah mewedarkan dalam Serat Wulangreh tentang
keutamaan berpuasa dan menghidupkan malam yang setidaknya dipraktikkan di
keraton Surakarta ketika melaksanakan tradisi maleman.
Padha gulangen ing kalbu
Ing sasmita amrih lantip
Aja pijer mangan nendra
Ing kaprawiran den kesthi
Pesunen sariranira
Sudanen dhahar lan guling
Berpuasa
dan menghidupkan malam, bagi Sunan Bagus, dapat mempertajam kecerdasan
seseorang dalam membaca isyarat.
Perihal
isyarat, astrologi atau horoskop Jawa rupanya mendasarkan diri pula pada
kearifan tentang sasmita, bahwa di samping ada pesthi, adapula
rekayasa manusia atau pestha.
Tentu, pestha pun
bukanlah jaminan bahwa manusia akan menuai keberhasilan. Namun, yang pasti, di
balik kearifan ini terletak keyakinan bahwa takdir—yang bagi orang Jawa umumnya
diukur dengan jodoh, rizki, dan kematian—tak semata tak dapat diketahui. Ia
juga tampil dengan sasmita.
Dengan sasmita atau
isyarat ini, maka rekayasa manusia diharapkan akan mendekati kenyataannya.
Taruhlah anak yang memiliki weton atau angka kelahiran 11 di mana neptu hari
kelahiran berjumlah 3 (Selasa) dan neptu pasaran berjumlah 8
(Kliwon), maka isyaratnya sang anak kalau tak menjadi serusak-rusaknya orang
atau bajingan, ia akan menjadi orang alim.
Atas
isyarat ini, biasanya orangtua yang waspada akan sebaik mungkin mendidik
anaknya agar kemungkinan untuk menjadi bajingan tak terjadi. Justru, sang anak
itu akan diarahkan untuk menjadi orang yang alim.
Di sinilah
anjuran Ronggawarsita bahwa seberuntung-beruntungnya orang yang lupa masih
beruntung orang yang eling dan waspada menemukan
dasarnya.
Eling dan waspada jelas
adalah sebuah modal kehidupan yang berkaitan dengan kenyataan bahwa takdir tak
mesti terjadi tanpa intervensi manusia. Berdasarkan kearifan di balik horoskop
Jawa tersebut, manusia ternyata senantiasa diberikan pilihan.
Kewaspadaan
jualah yang pada akhirnya akan menentukan hasilnya ke depan. Tanggap ing
sasmita atau cerdas dalam membaca isyarat jelas merupakan sebuah
kualitas diri yang menjadi ukuran dalam sebuah masyarakat yang lebih banyak
tampil dengan pasemon seperti masyarakat Jawa.
Bukankah
konon spiritual intelligence (SI) lebih banyak menentukan
keberhasilan seseorang dibanding tipe kecerdasan lainnya?
Setidaknya
itulah yang disimpulkan oleh Yosi Amram yang telah memublikasikan hasil
penelitian doktornya pada 2009.
Dengan
demikian, horoskop Jawa, yang tak dapat dilepaskan dari sasmita atau
isyarat, pada akhirnya adalah hasil dan penerapan dari apa yang di masa kini
dikenal sebagai spiritual intelligence (SI) atau spiritual
quotient (SQ).

Komentar
Posting Komentar